Selasa, 25 Juni 2013

SINGKAT

"aku berangkatnya pagi, biar kamu puas ngobrol sama akunya"

Kita Sampai siang itu... Matahari yang dengan hangatnya memancar menyaksikan kita...

Aku yang termangu menatap wajahmu, ya pertemuan pertama kita...  Pesona mu mengunggah jiwa, senyum itu masih jelas tergambar pada helai helai ingatanku.. Ini tentang mu, di siang hari ke dua puluh bulan ke lima, pertama kalinya kita berjabat tangan, seolah ada energi energi statis tersalur melalui hangat nya jabat tangan mu, mengalir deras bermuarakan jantungku... Ia berdegup cepat...

Kamu, siapa kamu? Pertemuan kita yg Tuhan rencanakan, Pertemuan yang menjadi sebuah pertanyaan pada benak ku...

"Tuhan, dia orang yang ku suka, kini dia dihadapanku, menggapai tanganku, Tuhan, apa maksud dari detak jantungku ini? Tuhan, apakah aku jatuh cinta??"

Lidah yang beku, terselip senyum manja pada sudut bibirku, tersipu ku malu padamu, genggaman tangan itu...

=====================================

Siang itu, milik kita, aku kamu bercanda tertawa membahas perihal yang tabu, tak perduli apapun itu... Yang aku tahu saat itu aku berada diruang hanya bersamamu, menikmati suasana.. Tawamu yang semakin renyah terdengar, senyum yang semakin hangat, serta sentuhan mu.. Semakin membuatku melayang, buta oleh kenyamanan saat itu...

Jarum jam semakin berputar, aku merasa lelah dan kau hendaki aku bersandar pada bahumu, kecupan pertama itu tepat sasaran pada keningku, belaian hangat tangan mu terbalut helai-helai rambutku...
Semakin saja aku terbuai, terlena oleh bisa mu.. Yang manis sampai ke kerongkongan..

*aku juga ingat saat kita berjalan, lelucuon lelucuon mu, membuat kita tertawa lepas, bebas tanpa beban

"kamu tau, sekarang sudah ada tekhnologi baru? Namanya trotoar! Harus digunakan dengan baik jangan jalan ditengah jalan"

Aku ingat kalimat itu, kau menarik tanganku, menjagaku dalam dekapmu, aku benar benar terkendali oleh mu saat itu...

=====================================

Banyak hal yang indah saat itu, kita duduk berdua menatap senja, dan masih saja berbincang, dikereta gantung itu, kau mulai mendekap ku hangat, kecupan itu terlontar pada bibirku, aku rancu...

Menolakmu atau membiarkan kita menikmatinya, hatiku rancu mengingatmu yg baru aku kenal 5 jam yg lalu ..

Namun... Hatiku telah memilihmu...
Kita, kamu aku membeku sejenak karna aku menolak, hingga kau tarik aku, sandarkan kepalaku pada pundakmu... Kita kembali hangat...

=====================================

" kamu seneng gak? | iya aku seneng [seneng banget malahan]"

Waktu cepat sekali, langit mengelabu, saatnya kita mengakhirinya, pertemuan pertama kita, kau genggam tanganku menghantarku pada perpisahan, entah apa yg ku rasa, sedih, senang atau apa?

Aku tak ingin waktu berlanjut "Tuhan, tahan detiknya"

Aku ingin bersamamu...

Tiba, kita menanti mobil angkutan kota jurusan rumahku, ya kamu menungguku naik duluan, kita yg berlainan arah.. Kembali kau kecup keningku, entah yang keberapa kalinya, kau hapus lelahku, tatap mataku, sayaang. Inginku memanggilmu layaknya itu..

=====================================

Namun, kini itu hanya bait cerita pada malamku, kenangan yang ku simpan apik pada bilik jantungku, kau hilang ntah kmana, angin membawamu berlalu...

Aku, disini mengulang kisah kita, pada tiap uraian air mataku..

*kamu tau, aku menyayangimu sampai kapanpun? Tak semudah itu merusak kenangan, walau itu singkat. Namun telah terpahat jelas*

Terimakasih sayang, untuk malam itu dan luka nya

Jakarta, 9 Juli 2013

Sabtu, 01 Juni 2013

NUL

Garis yang Aku Lihat Itu Hampa
garis akan harapan bersamamu, atas nama kesetiaan kehampaan lah yg kudapat, atas nama kerinduan kemenafikan lah yg kurasa...
memang bodoh menggenggam harapan pada kabut senja, bergurat indah jingga namun tak sampai mata memandang keindahan sirna bersama detik yg terus berpacu...
bagaimana bisa aku yg bersikukuh meyatukan namun kamu selalu bersikeras melupakan... apakah semua ini salahku?
aku meredam rasa, hingga lidah bungkam pada penjejakan yang kerap melukai hati, namun tak disadari gejolak ini selalu ingin berkecimpung, aku ingin bersamamu...
aku ingin bersamamu, memperbaiki hatimu yg luka, izinkan aku menjadi tetesan air di padang gersang mu, izinkan aku menjadi angin di terik siangmu, izinkan aku menjadi tungku dimalam badai mu....
lalu mengapa kesetiaan ini ditangguhkan? sementara kuncinya ada padamu...
aku yg memelukmu dalam doa dan simbahan derai airmata pada kain kerudung putih terbalut dalam tubuhku, aku memelukmu dalam doa sepertiga malamku, aku memelukmu dalam doa yang selalu kuselipkan pada detik lafadz shalawat yg kerap ku ucapkan...
berdoa demi kebahagiaanmu, berdoa demi perlindunganNya
TAPI....
Garis yang Aku Lihat itu Hampa
hampa, dari hadirmu, garisNya membedakan, bukan bukan kita berbeda tapi ambisi kita...
ya, ambisiku padamu dan ambisimu padanya...
kita sama sama tak dapat melupakan, hanya saja caranya berbeda...
kita sama sama menyakiti perasaan, hanya saja caranya berbeda...
kita sama sama memegang kesetiaan, hanya saja berbeda tujuan...
ya, memang aku dan kamu tak kan menjadi kita, karna hanya aku yg berusaha...
berbuatlah semaumu, maka akan aku terima semauku...

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...