Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya?
Satu hal yang menjaga saya saat ini adalah rasa syukur, tanpanya mungkin saya ludahi kehidupan ini!
Layaknya ketika saya melihat sepasang suami istri dan dua anaknya berjalan seperti keluarga, memang nyatanya.
Rasanya saya ingin mengamuk saja, ingin meludah saja, mungkin muak dengan rasa ingin, atau rasa lelah, lelah karena ingin.
Mungkin kau merindukan pasanganmu ingin memeluknya atau tertawa bersama, namun yang saya rindu lebih dari itu. Saya rindu sebuah keluarga, yang mengakibatkan saya ingin cepat-cepat menikah saja.
Saya rasa saya bisa mengatasi rasa rindu itu sendiri dengan menikah.
Bodoh kalau ada yang bilang menikah agar terhindar dari zinah, bodoh!
Mengapa saya ingin menikah muda?
Terlepas dari segala kesiapan, atau tetek-bengek keharusan, saya hanya rindu sebuah rumah tangga, rindu yang hampir tak tertuang selama 20 tahun, naif.
Selama ini saya hanya berusaha menafaskan diri saya, agar tak begitu sesak, dengan berbagai kerumitan di luar rumah, dengan berbagai kegiatan, yang pada akhirnya saya pulang dan kosong.
Saya benci rumah saya, saya benci kamar saya, bahkan kasur saya, bila bukan rasa syukur yang mengelus dada saya serta menahan agar tak saya lenyapkan mereka itu.
Saya hanya ingin pulang, benar-benar pulang.
Betapa tidak pedulinya saya terhadap apa saja yang menyesakkan dada saya.
Mungkin kebodohan saya ini terlihat dari setiap saya ke rumah, saya hanya berbaring dan berharap segera pagi, agar saya bisa pergi lagi.
Apa saja usaha yang saya coba untuk pulang, bahkan pergi hasilnya sama, saya tetap kosong.
Saya hanya ingin pulang, kepada rumah tangga, entah sebagai anak, istri atau menantu, saya hanya ingin pulang, itu saja.
Empty inside, cheerful insight
BalasHapus❤❤❤
Hapus