Jumat, 10 November 2017

01.04 am

Kau mungkin seorang pelupa,
Yang egoisnya sama saja seperti ingatan-ingatan yang terbang bersama embun dini hari
Ia basah dingin dan kadang suka menyelinap ke pori-pori,
Namun bentuknya tetap halus seperti bicara-perbincangan seorang ibu pada bayi yang dikandungnya.

Kali ini waktu lebih egois dari ingatan, ia berjalan sedikit lambat agar ingatan kembali pulang pada pelupa,
Segalanya perlahan mulai memudar, dan embun pun kembali jadi air.

Lalu apa lagi?
Hanya disisakannya bibit-bibit luka yang telah dulu dewasa dan membakar habis sebagian penyesalan
Lalu, masih ada sedikit keakraban antara waktu dan ingatan,
Mereka berjalan bersama walau kaki nya sedikit dipercepat detak jantung yang tak begitu romantis ditekan oleh rasa lelah.

Kelelahan-kelelahan itu berujung pada rundingan antara waktu dan ingatan, mau dibawanya ke mana dua kelopak mata ini?

Tak sempat perbincangan usai, namun hadir ia bisikan-bisikan kecil dari para keinginan,
Semakin ramai saja.

Belum sampai pukul dua malam, sebuah bom akhirnya dapat dirakit dengan sempurna, entah kapan meledakan isi kepala...

Kata mereka ini bukan sebuah penekanan atas lelah, ingatan, waktu dan keinginan, hanya saja kini bahagia sulit dijangkau pada jaman yang begitu mudah didapat apa-apa saja.

Kemudian kembali pelupa itu ingat dan mengurungkan keegoisannya yang kalah pada waktu dan ingatan,

Mungkin bukan saja sebuah lupa,
Sepertinya, hanya luka yang sengaja disederhanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...