Sabtu, 01 Juni 2013

NUL

Garis yang Aku Lihat Itu Hampa
garis akan harapan bersamamu, atas nama kesetiaan kehampaan lah yg kudapat, atas nama kerinduan kemenafikan lah yg kurasa...
memang bodoh menggenggam harapan pada kabut senja, bergurat indah jingga namun tak sampai mata memandang keindahan sirna bersama detik yg terus berpacu...
bagaimana bisa aku yg bersikukuh meyatukan namun kamu selalu bersikeras melupakan... apakah semua ini salahku?
aku meredam rasa, hingga lidah bungkam pada penjejakan yang kerap melukai hati, namun tak disadari gejolak ini selalu ingin berkecimpung, aku ingin bersamamu...
aku ingin bersamamu, memperbaiki hatimu yg luka, izinkan aku menjadi tetesan air di padang gersang mu, izinkan aku menjadi angin di terik siangmu, izinkan aku menjadi tungku dimalam badai mu....
lalu mengapa kesetiaan ini ditangguhkan? sementara kuncinya ada padamu...
aku yg memelukmu dalam doa dan simbahan derai airmata pada kain kerudung putih terbalut dalam tubuhku, aku memelukmu dalam doa sepertiga malamku, aku memelukmu dalam doa yang selalu kuselipkan pada detik lafadz shalawat yg kerap ku ucapkan...
berdoa demi kebahagiaanmu, berdoa demi perlindunganNya
TAPI....
Garis yang Aku Lihat itu Hampa
hampa, dari hadirmu, garisNya membedakan, bukan bukan kita berbeda tapi ambisi kita...
ya, ambisiku padamu dan ambisimu padanya...
kita sama sama tak dapat melupakan, hanya saja caranya berbeda...
kita sama sama menyakiti perasaan, hanya saja caranya berbeda...
kita sama sama memegang kesetiaan, hanya saja berbeda tujuan...
ya, memang aku dan kamu tak kan menjadi kita, karna hanya aku yg berusaha...
berbuatlah semaumu, maka akan aku terima semauku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...