Aku berjalan sendirian, di sebuah pemukiman di mana aku berpikir bahwa menemukan tempat berteduh itu sulit, segala tempat telah berpenghuni. Aku terus berjalan hingga urat urat di kaki ini mulai menggerogoti sela sela darah, menahan oksigen sampai ke otak ; aku kelelahan. Asa ku mulai kabur, ingatan tentang rumah lamaku datang perlahan, seolah aku ingin kembali pulang, namun hati ini tetap menyeret kaki ku untuk berjalan ke depan...
Nampak sekilas, rumah di ujung jalan.. aku perahan menghampirinya, rumah itu sangat menggodaku, seolah ia melambaikan tangan kemudian memperdengarkan lagu lagu musik musik indah yang seketika mengalir di darah kemudian terlintas untuk duduk dan singgah sebentar. Ujung sepatuku hampir sampai pintu, tiba tiba suara pintu terbuka perlahan terdegar sembari desir angin malam yang mulai menggigilkan perjengkal dari bulu roma ku, aku pun masuk perlahan, ke dalam rumah tak berpenghuni itu.
Aku lihat keadaannya yang usang, meja, kursi lemari kayu jati masih terletak sempurna ; hany debu dan sarang laba laba yang menunjukan rumah itu benar benar tak berpenghuni. Lembar demi lembar kain putih berdebu aku lepaskan dari peralatan rumah yang indah itu, rasa lelah ini tak mengurungi niat untuk mencari tahu tentang apa rumah itu.
Satu per satu ruangan aku masuki, ukirannya indah, tatanan jendela dan kusen nya pun mewah..
kemudian aku sadar dan tersentak ; "mengapa rumah seindah ini tak berpenghuni?"
lantainya terbuat dari batu marmer mahal, ada bekas goresan di sela sela tembok, dan atap yang sedikit koyak, mungkin karena rumah ini menyimpan cerita yang banyak.
Aku penasaran, rumah ini begitu menggiurkan hingga liur yang berceceran pun tak sanggup menjadi gambaran tentang rasa itu. Rumah ini seolah memintaku menetap, dengan hembusan angin yang perlahan menumbuhkan rasa kantuk hingga ke sela sela kerongkongan. kemudian aku terlelap.
Langganan:
Komentar (Atom)
Rumah Tangga?
Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...
-
Jatuh cinta kepadamu bukanlah sebuah puisi-puisi yang aku nikmati atau aku tuliskan. Jatuh cinta kepadamu, Adalah tangisan yang aku redam...
-
Kau hanya sebuah tulisan, Yang aku setarakan dengan awan-awan di langit. Ingin ku sentuh, Dapat ku sentuh, Kemudian basah, Namun di kel...
-
Kau mungkin seorang pelupa, Yang egoisnya sama saja seperti ingatan-ingatan yang terbang bersama embun dini hari Ia basah dingin dan kadan...