Kamis, 07 Agustus 2014

Rumah

Aku berjalan sendirian, di sebuah pemukiman di mana aku berpikir bahwa menemukan tempat berteduh itu sulit, segala tempat telah berpenghuni. Aku terus berjalan hingga urat urat di kaki ini mulai menggerogoti sela sela darah, menahan oksigen sampai ke otak ; aku kelelahan. Asa ku mulai kabur, ingatan tentang rumah lamaku datang perlahan, seolah aku ingin kembali pulang, namun hati ini tetap menyeret kaki ku untuk berjalan ke depan...

Nampak sekilas, rumah di ujung jalan.. aku perahan menghampirinya, rumah itu sangat menggodaku, seolah ia melambaikan tangan kemudian memperdengarkan lagu lagu musik musik indah yang seketika mengalir di darah kemudian terlintas untuk duduk dan singgah sebentar. Ujung sepatuku hampir sampai pintu, tiba tiba suara pintu terbuka perlahan terdegar sembari desir angin malam yang mulai menggigilkan perjengkal dari bulu roma ku, aku pun masuk perlahan, ke dalam rumah tak berpenghuni itu.

Aku lihat keadaannya yang usang, meja, kursi lemari kayu jati masih terletak sempurna ; hany debu dan sarang laba laba yang menunjukan rumah itu benar benar tak berpenghuni. Lembar demi lembar kain putih berdebu aku lepaskan dari peralatan rumah yang indah itu, rasa lelah ini tak mengurungi niat untuk mencari tahu tentang apa rumah itu.

Satu per satu ruangan aku masuki, ukirannya indah, tatanan jendela dan kusen nya pun mewah..
kemudian aku sadar dan tersentak ; "mengapa rumah seindah ini tak berpenghuni?"
lantainya terbuat dari batu marmer mahal, ada bekas goresan di sela sela tembok, dan atap yang sedikit koyak, mungkin karena rumah ini menyimpan cerita yang banyak.

Aku penasaran, rumah ini begitu menggiurkan hingga liur yang berceceran pun tak sanggup menjadi gambaran tentang rasa itu. Rumah ini seolah memintaku menetap, dengan hembusan angin yang perlahan menumbuhkan rasa kantuk hingga ke sela sela kerongkongan. kemudian aku terlelap.








Kemudian pagi ku tiba, aku terkejut mendapati tubuhku masih berada pada rumah ini, tak ada pemilik yang pulang, dan aku makin terkejut, keadaan rumah ini lebih indah dari tadi malam. Temboknya tehempas cahaya matahari seolah merah meronah seperti mawar merekah, aku kagum dan tertegun. Rasa ingin menepatinya semakin kuat, ku ambil perkakas rumah tangga kemudian aku perbaiki segala kekurangannya, tembok yang kotor, debu dan pasir yang berserakan, satu per satu bagian aku bersihkan aku rapihkan dengan sangat bersemangat, tada! rumah ini siap ku huni.


Di ujung lorong ada lampu setengah redup yang memperindah keadan rumah ini, kini rumah ini menjadi milikku, tak ada yang pernah datang meminta rumah ini.
pemilikny apasti sudah pergi jauh, ntah ke mana.


Kemudian, aku duduk di sebuah kursi tua ukiran khas masa lalu, dengan secangkir kopi dingin dan sepiring kukis manis buatanku. Bahagiaku cukup sesederhana ini...





P.S : Rumah itu, Hatimu....



Bekasi, 7 Agustus 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...