Minggu, 29 Juni 2014

Hangat Sebuah Daster Ungu..



Daster Ungu...

Mungkin ini lebih mirip sebuah surat yang semoga penerima sebenarnya dapat membacanya dengan baik serta dapat kembali kepelukan...

Hari pertama puasa kali ini luar biasa berbeda, bukan hanya karena keindahan baru memasuki hidupku.. namun separuh dari detak jantungku menghilang, berikut dengan hela napas dan hangat tubuh tentunya..
Aku tidak sebenar nya kehilangan, mungkin ini pilihannya...

Sahur pertama tahun ini, tiada lagi suara ibu yang membangunkan serta aroma opor ayam yang dihangatkan, memang aku sudah lama kehilangan itu.. tahun tahun yang menyedihkan..
Namun, kali ini berbeda.. aku benar benar tak merasakan, paling tidak dari telepon aroma itu sama sekali tidak ada..

Bu.. aku ingat kau sangat bawel karena aku yang tidur sangat lelap namun kau tak lelah mengomeli aku agar segera bangun makan sahur agar puasa nanti bisa sampai maghrib. Aku juga ingat kau melarangku tidur  setelah makan karena sebentar lagi masuk waktu sholat, hehe aku ingat bu..
Aku kehilangan bu, tahun tahun menyedihkan ini sudah memasuki angka ketiga, namun kini aku benar benar kehilangan..

Tahun ini, aku baru hanya melewati satu kali sahur.. lalu masih ada dua puluh sembilan lagi aku merasakan luka ini sebelum hari puncaknya, dimana luka itu membunuhku  perlahan, tidak menyebabkan kematian, bu.. tenang saja anakmu ini akan tetap hidup dalam luka nya, seperti yang engkau ajarkan bahwa aku harus kuat dan bisa membahagiakan orang orang di sekitarku..

Oiya bu, bicara tentang orang sekitar kini aku menjalani tugasmu kepada orang sekitarku.. keluargaku tepatnya adikku.. memang aku tak pernah bisa menjadi ibu, bahkan replika ibu pun aku tak pernah bisa, setidaknya aku bisa menjadi kakak yang keibuan.. hehe ibu selalu menyuruhku begitu.. aku bisa memasak bu, aku bisa mengurus rumah, bahkan aku bisa ambil raport adik ku.. (dia naik kelas tapi gak rangking bu..)

Bu.. aku bingung, banyak yang bertanya tentangmu kepadaku.. mereka sangat ingin tahu tentangmu.. aku tak bisa menjawabnya karena dirimu memang tak cukup diuraikan dalam dua puluh empat jam.  Namun, mereka benar benar ingin tahu.. mana bisa aku menguraikan tentang wajah indahmu, kulit putih, rambut bergelombang serta gigi yang bersinar tersusun rapih, wajah jutek dan menggodamu.. aku yakin mereka takkan percaya, dan pasti mengatakan “kau ceritakan bidadari?” namun meraka salah bu! Aku memang menceritakan bidadariku, setidaknya yang ini tidak termasuk sayap..

Ntahlah, kau sebenarnya bidadari atau malaikat, atau bidadari yang ternyata malaikat lalu menyerupai ibuku? Mungkin itu jawabannya..

Bidadari yang selalu menyikat kerah seragam sekolahku sampai benar benar bersih, bidadari yang merapihkan kasurku yang nantinya aku berantaki lagi, bidadari yang mengepang rambut panjangku kemudian memberi bedak pada wajahku hingga kadang kadang cemong, bidadari yang setiap malamnya meminta pada Tuhan agar senantiasa aku dilindungiNya, bidadari yang membiarkan jemari nya berdarah demi sedapnya makanan saat aku kelaparan, bidadari yang tersusahi ketika aku sulit bernapas dan terbangun malam malam, bidadari yang memberi tumpangan pada perutnya selama sembilan bulan, lalu membiarkan tubuhnya tidak indah, bidadari yang merelakan wajahnya kendur karena mengomeli aku yang salah, bidadari yang rela urat nya putus karena melahirkanku, bidadari yang rela nyawanya lenyap demi bayi mungil yang belum tentu nanti akan membalasnya, bidadari yang senantiasa memberikan nasihat hingga tak perduli suaranya akan habis, sebentar bu.. air mataku sudah mulai membasahi keyboard..
Kini aku menghela napas bu, nampaknya menguraikan mu dalam tulisan ini saja aku tak kuasa, itu baru sedikit tentang mu.. mereka mau mendengarkan memang? Jika aku membeberkan semuanya..

Bu.. aku telah banyak bicara basa basi, boleh aku bilang yang sebenarnya bahwa aku merindukanmu?
Benar bu, aku benar benar merindukanmu.. aku tidur dengan mengenakan daster ungu kepuyaanmu.. ntah bagaimana pakaian ini sangat indah dan kain setipis ini bisa terasa hangat, mungkin  sisa sisa cinta sang bidadari masih mendiangi kain usang ini. Aku merndukan ceritamu, aku menyesal pernah bosan mendengar cerita tentang temanmu yang  ternyata suaminya teman lama mu.. aku ingin kembali memutaritu semua.. kini aku hanya mendengar suaramu dalam lamunanku.

Aku benar benar rindu meniup paha mu hingga bunyi, hehe itu kebiasanku keika kau tidur dan memegang remot.. aku rindu pergi ke warung berkali kali karena salah membeli barang yang kau pinta, aku rindu berboncengan motor berdua denganmu, aku rindu kau suruh aku memasang lampu yang putus karena kini aku lebih tinggi darimu, hehe.. aku rindu ketika jalan berdua lalu kita disangka adik kakak,heh..

BU RARA RINDU!!!
Sudah berapa rindu yang aku ucapkan, belum lagi yang tak aku tulis dan aku biarkan membusuk bersama luka ini.. aku tak meyalahkan keadaan Tuhan atau siapapun.. aku hanya menyesali mengapa aku sempat bosan melewati itu...

Aku ingin kau pun melihat ketika aku mengenakan toga, aku ingin kau melihat ketika seorang pria mengucapkan ijab untuk meminangku, aku ingin kau menimang anakku, aku ingin kau menikmati jerih payahmu..

Pulanglah bu, berapa juta bahkan miliyar airmata ini masihkah kurang menjadi hukuman bagiku, aku tak pernah menyesali dan membenci.. aku merasa segalanya hanya hukuman bagiku.. aku tak pernah menuduh Tuhan penyebab segala luka ini..
Aku hanya mencintaimu dengan sangat, aku hanya ingin kembalikan separuh detak jantungku.
Belum sempat aku membagi kebahagiaan untukmu, bu..
Aku sudah cukup terluka, aku tau lukamu lebih dari ini..

Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu


Untuk ibu, dari anakmu ...

Bekasi, 29 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...