Daster Ungu...
Mungkin ini lebih mirip sebuah surat yang semoga penerima sebenarnya
dapat membacanya dengan baik serta dapat kembali kepelukan...
Hari pertama puasa kali ini luar biasa berbeda, bukan hanya karena
keindahan baru memasuki hidupku.. namun separuh dari detak jantungku
menghilang, berikut dengan hela napas dan hangat tubuh tentunya..
Aku tidak sebenar nya kehilangan, mungkin ini pilihannya...
Sahur pertama tahun ini, tiada lagi suara ibu yang membangunkan serta
aroma opor ayam yang dihangatkan, memang aku sudah lama kehilangan itu.. tahun
tahun yang menyedihkan..
Namun, kali ini berbeda.. aku benar benar tak merasakan, paling tidak
dari telepon aroma itu sama sekali tidak ada..
Bu.. aku ingat kau sangat bawel karena aku yang tidur sangat lelap
namun kau tak lelah mengomeli aku
agar segera bangun makan sahur agar puasa nanti bisa sampai maghrib. Aku juga
ingat kau melarangku tidur setelah makan
karena sebentar lagi masuk waktu sholat, hehe aku ingat bu..
Aku kehilangan bu, tahun tahun menyedihkan ini sudah memasuki angka
ketiga, namun kini aku benar benar kehilangan..
Tahun ini, aku baru hanya melewati satu kali sahur.. lalu masih ada dua
puluh sembilan lagi aku merasakan luka ini sebelum hari puncaknya, dimana luka
itu membunuhku perlahan, tidak
menyebabkan kematian, bu.. tenang saja anakmu ini akan tetap hidup dalam luka
nya, seperti yang engkau ajarkan bahwa aku harus kuat dan bisa membahagiakan
orang orang di sekitarku..
Oiya bu, bicara tentang orang sekitar kini aku menjalani tugasmu kepada
orang sekitarku.. keluargaku tepatnya adikku.. memang aku tak pernah bisa
menjadi ibu, bahkan replika ibu pun aku tak pernah bisa, setidaknya aku bisa
menjadi kakak yang keibuan.. hehe ibu selalu menyuruhku begitu.. aku bisa
memasak bu, aku bisa mengurus rumah, bahkan aku bisa ambil raport adik ku..
(dia naik kelas tapi gak rangking bu..)
Bu.. aku bingung, banyak yang bertanya tentangmu kepadaku.. mereka
sangat ingin tahu tentangmu.. aku tak bisa menjawabnya karena dirimu memang tak
cukup diuraikan dalam dua puluh empat jam.
Namun, mereka benar benar ingin tahu.. mana bisa aku menguraikan tentang
wajah indahmu, kulit putih, rambut bergelombang serta gigi yang bersinar
tersusun rapih, wajah jutek dan menggodamu.. aku yakin mereka takkan percaya,
dan pasti mengatakan “kau ceritakan bidadari?” namun meraka salah bu! Aku memang
menceritakan bidadariku, setidaknya yang ini tidak termasuk sayap..
Ntahlah, kau sebenarnya bidadari atau malaikat, atau bidadari yang
ternyata malaikat lalu menyerupai ibuku? Mungkin itu jawabannya..
Bidadari yang selalu menyikat kerah seragam sekolahku sampai benar
benar bersih, bidadari yang merapihkan kasurku yang nantinya aku berantaki
lagi, bidadari yang mengepang rambut panjangku kemudian memberi bedak pada
wajahku hingga kadang kadang cemong, bidadari yang setiap malamnya meminta pada
Tuhan agar senantiasa aku dilindungiNya, bidadari yang membiarkan jemari nya
berdarah demi sedapnya makanan saat aku kelaparan, bidadari yang tersusahi
ketika aku sulit bernapas dan terbangun malam malam, bidadari yang memberi
tumpangan pada perutnya selama sembilan bulan, lalu membiarkan tubuhnya tidak
indah, bidadari yang merelakan wajahnya kendur karena mengomeli aku yang salah,
bidadari yang rela urat nya putus karena melahirkanku, bidadari yang rela
nyawanya lenyap demi bayi mungil yang belum tentu nanti akan membalasnya,
bidadari yang senantiasa memberikan nasihat hingga tak perduli suaranya akan habis,
sebentar bu.. air mataku sudah mulai membasahi keyboard..
Kini aku menghela napas bu, nampaknya menguraikan mu dalam tulisan ini
saja aku tak kuasa, itu baru sedikit tentang mu.. mereka mau mendengarkan
memang? Jika aku membeberkan semuanya..
Bu.. aku telah banyak bicara basa basi, boleh aku bilang yang
sebenarnya bahwa aku merindukanmu?
Benar bu, aku benar benar merindukanmu.. aku tidur dengan mengenakan
daster ungu kepuyaanmu.. ntah bagaimana pakaian ini sangat indah dan kain
setipis ini bisa terasa hangat, mungkin
sisa sisa cinta sang bidadari masih mendiangi kain usang ini. Aku merndukan
ceritamu, aku menyesal pernah bosan mendengar cerita tentang temanmu yang ternyata suaminya teman lama mu.. aku ingin
kembali memutaritu semua.. kini aku hanya mendengar suaramu dalam lamunanku.
Aku benar benar rindu meniup paha mu hingga bunyi, hehe itu kebiasanku
keika kau tidur dan memegang remot.. aku rindu pergi ke warung berkali kali
karena salah membeli barang yang kau pinta, aku rindu berboncengan motor berdua
denganmu, aku rindu kau suruh aku memasang lampu yang putus karena kini aku
lebih tinggi darimu, hehe.. aku rindu ketika jalan berdua lalu kita disangka
adik kakak,heh..
BU RARA RINDU!!!
Sudah berapa rindu yang aku ucapkan, belum lagi yang tak aku tulis dan
aku biarkan membusuk bersama luka ini.. aku tak meyalahkan keadaan Tuhan atau
siapapun.. aku hanya menyesali mengapa aku sempat bosan melewati itu...
Aku ingin kau pun melihat ketika aku mengenakan toga, aku ingin kau
melihat ketika seorang pria mengucapkan ijab untuk meminangku, aku ingin kau
menimang anakku, aku ingin kau menikmati jerih payahmu..
Pulanglah bu, berapa juta bahkan miliyar airmata ini masihkah kurang
menjadi hukuman bagiku, aku tak pernah menyesali dan membenci.. aku merasa
segalanya hanya hukuman bagiku.. aku tak pernah menuduh Tuhan penyebab segala
luka ini..
Aku hanya mencintaimu dengan sangat, aku hanya ingin kembalikan separuh
detak jantungku.
Belum sempat aku membagi kebahagiaan untukmu, bu..
Aku sudah cukup terluka, aku tau lukamu lebih dari ini..
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Aku mencintaimu bu
Untuk ibu, dari anakmu ...
Bekasi, 29 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar