Senin, 27 Oktober 2014

Dua Puluh Delapan

Hai, malam ini tanggal yang seharusnya aku senang kehadirannya, sebab hitungan bulan ketika kita mulai bersama, ini yang ke lima belum sempat sampai pada detik ke dua belas kita lebih dulu terlepas sebab keadaan atau entah apalah.

Maaf sebelumnya, aku menulis ini untukmu, bukan untuk menangis di hadapanmu ketika kau membacanya, atau berbelas sebab kau memang tak lagi ada untukku. Memang, aku akui selepas perpisahan kita tak bicara apa yang seharusnya kita bicarakan, kau pergi dengan cara yang sangat manis, sementara aku diam saja tak menahanmu untuk melakukan itu.

Mungkin ini saat yang tepat, di mana malam menghantarkan aku kepada ingatan tentangmu semakin dalam, entah apa yang begitu sesak di dalam bilik jantung ke lima ku, aku lupa membuka nya selepas kepergian, hingga tak ada udara yang masuk menyesakkan segala ingatan tentangmu.

Di dalam surat ini, aku tak akan memintamu kembali atau datang hanya sekadar melepas rindu yang aku pura pura kan hilang sejak lama, aku hanya ingin mengingat dan mengatakannya, agar tak terlalu sesak seperti meriuhkan namamu di dalam jantung ini.

Benar, aku mencintaimu, mungkin hingga kini aku menulis surat ini untukmu, bukan. Bukan aku yg ingin, ntah bagaimana kita dulu tak lagi ku ingat, sebab aku hanya merasakan itu hingga kini. Sebab, selepas kepergian kita, aku tak melihat atau mendengar lagi suaramu, ntah mungkin itu sebab mengapa aku sangat merindumu.

Aku hanya ingin bilang, kau banyak mengajariku arti kehidupan, pastinya kini aku lebih baik, toh dalam hidup harus ada perubahan, namun kau juga telah mengajariku kehilangan, seperti apa yg kau takutkan dahulu, benar bukan?

Kehilangan, mungkin kau benar benar mengajariku tentang itu, aku tau rasanya sepertimu merasa kehilangan selepas kepergian.
Aku menangis? Iya memang, rasanya kau sangat kuat hingga tak secengeng aku sekarang.

Setelah ini, aku tak akan lagi mengganggumu, walau rindu sudah sesakkan pikiranku, seperti mau pecah rasanya. Memang, mereka hadir dalam hidupku, kini. Namun tak ada yg serutin engkau, mungkin belum.

Aku mencintaimu, apa maumu itu urusanmu, aku tak peduli apa yg menjadi inginmu kini, ya pastinya setelah inginmu tak lagi aku. Namun, segala terimakasih aku ucap untukmu atas segala pelajaran yang sebegitu mahalnya.

Doa terkhirku untukmu nampaknya sudah terkabul, kebahagiaanmu serta keadaanmu yg baik baik saja selepas ketidakberadaannya diriku. Yang kulihat justru kau lebih baik, bukan? Ya, aku tak akan lagi mengangkat ke dua tanganku menangis di hadapanNya untukmu lagi, setelah ini aku berjanji tak akan melakukannya lagi untukmu.

Sudah basah pipi ku, mungkin ini saja yg ingin ku ucapkan padamu, rasa terimakasih serta maaf sebab tak mampu menghadiahkanmu kebahagiaan, dan beberapa cerita keadaanku selepas kepergian.

Selanjutnya, aku akan kembali menjalani hidupku tanpa lagi mengganggumu, maaf selama ini aku masih lancang untuk merindumu.

Aku mencintaimu, hingga kini. Dan sudah.

Bekasi, 28 Oktober 2014
00.01

-Bidadari Cokelat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...