Minggu, 29 Oktober 2017

Ungkapan


Jatuh cinta kepadamu bukanlah sebuah puisi-puisi yang aku nikmati atau aku tuliskan.

Jatuh cinta kepadamu,
Adalah tangisan yang aku redamkan,
Adalah tawa yang aku bisukan,
Adalah marah yang aku padamkan,
Adalah kasih yang aku amankan,
Adalah pusaran sikap yang aku tenangkan.

Niraksara

Kau hanya sebuah tulisan,
Yang aku setarakan dengan awan-awan di langit.
Ingin ku sentuh,
Dapat ku sentuh,
Kemudian basah,
Namun di kelopak mata.

Kau adalah sebuah tulisan,
Yang aku ibaratkan dengan nirwana
Ingin ku tempati,
Dapat ku tempati,
Kemudian kekal,
Namun di dalam jiwa saja.

Kau adalah tulisan-tulisan seorang niraksara ini.

Kamis, 19 Oktober 2017

Pertanyaan

Kau bertanya sesaat, adakah dirimu di dalam ruang itu, mereka biasa menyebutnya hati.

Tapi tunggu dulu sebentar, nyali mu kuat, kau turunkan ego untuk bertanya yang bukan-bukan.

Namun boleh kau ingat,
Aku tak bisa menyelamatkanmu ke dalam puisi-puisi ku, naif rasanya, ku biarkan kau tenggelam dan larut di dalamnya
Mungkin kali ini kau bisa saja mati dalam kata-kata yang mungkin telah diindahkan

Seperti ini,
Bila kau satu aku ialah dua, bila kau tiga aku ialah empat, mungkin semudah menderetkan kita,
Namun tak ada genap kemudiannya
Kau tahu, aku tahu itu.

Kemudian aku pura-pura saja lupa pernah sekian detik mencintaimu?
Mencintaimu?
Hhhh mencintaimu?
Apapun lah katamu, aku sudah jujur.
Atau kata lain, menempatkanmu di hatiku?

Halah! Kita ini remaja apa dewasa?
Digerayangi kata kata cinta,
Dijamah perlakuan perlakuan rindu,
Lalu apa?
Bias kan?

Namun harus kujelaskan,
Menjawab pertanyaanmu tak sama mudahnya ketika mencari alasan untuk habiskan waktu bersamamu,
Aku bisa saja berbohong,
Atau pura-pura saja lupa,

Walau kadang ingat, ini tak bisa.

Imajinasi Brengsek

Sering kali aku genggam lembut satu per satu dari helai rambut panjangmu
Atau aku peluk tubuh ringanmu
Dan kemudian aku kecup keningmu

Kemudian separuh lainya menegurku!
"Kau manusia, ingat itu saja"
Dengan segala iming-iming kita adalah makhluk sempurna, kutinggalkan kau dengan mata terpejam setengah basah

Barangkali aku boleh diam, dengan kecamuk-kecamuk suara di lingkar kepala dan aku masih sedia untuk diam

Tunggu sebentar, membiarkanmu dalam imajinasiku memang tidak beradab, sementara yang lainnya berusaha keras mengabaikanmu?

Aku ini apa?
Mencintaimu atau tidak?
Brengsek!
Nyatanya keduanya pun sulit untuk salah satu, brengsek!

Bohong lah kau!
Pura-pura saja selama ini, bersikap seolah aku yang iblisnya, padahal kau pastinya pun bukan malaikat.

Nampaknya bukan dirimu, itu diriku, iya, diriku, kau abadi,

Tapi sudahlah,
Jalan ini masih begitu bercabang,
Kau,
Bukan sekadar imaji ku
Brengsek,
Nyatanya kau imaji ku.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Biasanya

Seringkali Tuhan,
Kau libatkan aku pada doa yang berantakan,
Memang semuanya tak karuan,
Sedikit sesak atas keramaian ini,
Walau bisa saja aku kehilangan napas dalam ruang selanjutnya,

Melalui lidah-lidah mereka, Kau sering meludahiku dengan kata-kata "kau tak bisa sendirian" pada kenyataannya apa?

Bukan, bukan ini protes atau penolakan kebencian dendam atau apa,
Aku mencintaiMu layaknya Ibu dan Ayah pernah ajarkan (mungkin pernah mereka ajarkan)

Semua orang, setiap, bahkan satu per satu pernah merasakannya,
Memang aku tak benar-benar sendirian sesendiri ini
Aku sendirian?
Ah tidak!
Atau
Mungkin bisa saja,

MenebakMu katanya dosa,
Apapun Dosa lah...

Untuk kali ini saja...
Aku biarkan dosa itu,
Seberapa besar kau libatkan aku pada itu,
Apapun,
Semua kembali, pada ini yang terbaik yang Kau pilih...


Serakah

Mendapat pengampunan atas dosa yang tak ku buat,
Mendapat pelukan atas tubuh yang aku miliki,
Mendapat senyuman atas cinta kasih-pengampunan serta rindu yang tak redup,
Mendapat tawa atas keriangan lelucuon konyol yang kau sengaja utarakan,
Mendapat kehangatan atas api yang sia-sia aku panaskan,
Mendapat bising atas kepak kecil sayap dewa yang aku terbangkan,
Mendapat kehadiran atas doa-doa yang aku tangisi bila tak ada pengabulan,

Kemudian masih ingin dan kemudian masih ingin dan kemudian masih ingin dan kemudian masih ingin

Ingin
Ingin
Ingin

Seolah hipotesa akan ditambahkan kian aku patahkan

Dan satu per-satu dari ketiadaan kian melintasi,
Jalan pintas ini tak akan mudah,
Boleh kau racuni aku saja
Tapi berikan aku sedikit puas.

Jumat, 06 Oktober 2017

Sewaktu-waktu

Apa kau pernah, sekali saja merasa begitu sepi hingga napasmu berlari kencang di ujung kerongkongan?
Apa kau pernah, sekali saja ingin menghentikan waktu hanya untuk bernapas?
Selega itukah?

Apa kau pernah, sekali saja berteriak pada ruang kosong namun seolah seluruh mata menatapmu dengan bengis?
Apa kau pernah, tertawa bersama dalam kepanjang umuran padahal kau akan mati besok?
Sebising itukah?

Kau bisa kapan saja
Menjadi sendirian
Atau
Menjadi bagian

Kau bisa kapan saja
Merasa mati dalam kedamaian
Atau
Hidup dalam ketiadaan

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...