Kamis, 20 Juli 2017

Barisan Rinai Hujan di Ujung Jalan

Aku masih ingat ketika kita terjebak di antara hujan yang manis dan gerimis, pertemuan pertama yang hangatnya begitu terasa merusuk, tentang sepasang bola mata indah yang menatapku dalam dalam diam diam..
Kedua bola mata yang dengan sadis menusuk panah cinta tepat di pelantar hatiku, bola matamu..
Pertemuan yang hanyutkan aku dan kamu hingga menemukan kita.

Hai, Radit.. aku ingat dua tahun silam kau menyita pikiranku hingga terpaut padamu. Tawamu yang hangat dan berkharisma selalu saja berhasil mendegubkan kembali palung hati terdalam.
Aku selalu ingat perihal hujan yang kau anggap beda, kau bilang hujan adalah bentuk pujian Tuhan terhadap kita

“Kei, dengarkan suaranya.. seperti tepuk tangan yang riuh, bukan? Jangan kau anggap hujan seperti tangisan alam, namun sebagai pujian Tuhan atas keindahan yang terjadi.. kau harus belajar menganggap segala sesuatu indah, termasuk dirimu sendiri”

seketika lidahku kelu mendengar keindahanmu menganggap segala hal menjadi indah.

Dit, akupun ingat kau selalu meraih tanganku ketika hujan di bulan Juli mengajakku menari-nari tertawa di hadapan orang banyak .. kau bilang aku tak boleh takut sakit, justru hujan meluruhkan segala sakitku.

Dua tahun bersamamu yang begitu manis, aku hingga bingung bagaimana menghabiskan segelas tangis ini yang terasa begitu manis.

Banyak yang ku pelajari dari senyumanmu, tentang hujan yang indah, tentang rindu yang sebaiknya aku sebut bukan aku bungkam dalam kalut, tentang bagimana hidup dengan memandang segalanya begitu indah.

Aku tenggelam, dalam ceria dan gaya hidupmu, tentang segala luka yang kau seruput dengan nikmat, kau begitu membingungkan bagiku ; “mengapa malaikat seperti ini dapat aku temui, bahkan aku miliki” pertanyaan yang acap kali datang menyerbu pikiranku.

Aku tak pernah melihat luka dalam retina matamu, bahkan ketika sedihpun kau masih menggodaku dengan berjoget ala film India. Kau membawaku pada hujan dan lagu yang sering kita nyanyikan berdua, sepertinya hanya aku saja yang menyanyikan sebab kau sibuk memandangku dengan tatapan sesadisnya cinta paling dalam. Lalu, ketika kau ku tanya mengapa menatapku seperti itu terselip senyum manis di ujung bibir tipismu yang gemas rasanya ingin ku cumbu setiap waktu.

Kau selalu mengajakku berpergian tanpa bilang mau kemana kita sampai akhirnya semua itu selalu kejutan indah, ingatan tentang kau bawa aku pergi menonton film lama di bioskop yang sudah tua, kau bilang kenangan itu tak boleh dilupakan karena kita belajar dari segala kenangan, film yang selalu kita tonton berulang kali.

Yang ku ingat, bersamamu hanyalah bahagia, segala indahmu membawaku pada waktu paling indah. Ntah mengapa kau hanya sibuk membahagiakanku tanpa menunjukan sedikitpun lukamu, atau sakitmu.
Aku menyesal tak mengenalmu seperti kau mengenalku, aku selalu menerima kebahagiaan dan menemanimu tanpa memberi warna lebih di akhir akhir pesakitanmu.

Kau selalu memintaku agar tetap bahagia, bagaimana aku dapat bahagia? Ketika hanya kau yang dapat lakukan itu telah pergi tanpa pamit kepadaku?
Bagaimana aku dapat bahagia ketika kau yang melukis senyum kini pergi takkan kembali?
Bagaimana aku dapat bahagia ketika kau yang memelukku kini dingin dan hanya semu?
Bagaimana aku dapat bahagia ketika kau yang mengajakku kini tak pernah datang menjemput?

Pantas, kau tak pernah berjanji akan selalu menemaniku, sebab kau akan tahu bahwa kau takkan menemaniku lagi..

Kini aku hampir benci terhadap hujan, yang selalu ingatkan ku padamu, aku benci mengenyam tangis sendirian, dirimu takkan kembali..

Banyak penyesalanku, mengapa tak pernah memelukmu dengan erat, mengapa tak menjagamu dengan hangat, mengapa aku tak melihat penderitaanmu selama ini? Bertarung dengan sakit dan tetap membahagiakanku seutuhnya.

Terimakasih telah hadir bersama hujan, kini aku hanya mengenang hujan bersama ribuan tangis yang  jatuh di tanah, terimakasih telah berikan hangat dalam pelukmu, terimakasih telah mengajarkan hal indah dan membawaku serta pada hujan.

Radit, kini aku duduk sendirian di tempat yang tepat pertama kali kita berjumpa dua tahun silam, kini pun hujan dan banyak  tangis di dalamnya, aku menikmati segelas tangis ini dengan melihat senyummu yang berjatuhan tiap tetesnya pada tanah,  kini aku tak mengartikan lagi hujan sebagai  pujian Tuhan, namun sebagai dirimu yang bahagia di atas sana, aku yakin pada setiap tetes hujan yang jatuh di alamku adalah segala pesan rindumu kepadaku..

Radit, aku telah kuyub bersama hujan, rindu, dan kamu..  namun aku tetap hangat karena semua itu kita. Aku telah belajar, dit.. bagaimana melepas genggamanmu dan acap bersamamu dalam doa sepertiga malamku..

Radit, kini aku bersama rinai hujan, dan rupa dirimu di ingatan, pada ujung jalan dibulan Juli...
Aku mencintaimu...

Jakarta, 26 Juli 2014

Keira...

Alokasi dari blogg yang jarang dipakai

Vaniralatte.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...