"kamu tuh harapan ibu ra, jangan melawan... tak ingatkah aku yang menopangmu.. menyuapimu.. menahan beratmu dalam 9bulan 10hari... dan aku yg bertengkar dengan nyawa hanya demi menghadirkan mu didunia....."
pesan ibu setiap kali aku telah jengah atas semua nasehatnyaa..
memang ibu adalah segalanya bagiku.. namun terkadang sifat kekanak-kanakanku masih ada ketika ibu selalu mengeluh kelakuanku...
memang tiada kata kasar terucap dalam lisanku .. tidak pernah dia tau ocehanku dalam hati... menyudutkan dan menyalahkan dia..
namun sesekali penyesalanku lahir.. saat aku melihatnya lelah raut wajahnya yang kian menunjukkan ketegaran.. dalam benakku "aku anak macam apa?"
berkeluh kesah atas kesalahan yang memang aku perbuat, menyalahkan ibu yang sebenarnya dia nyawaku..
sebagaimana layaknya nyawa.. apa aku tanpanya? hanya seonggok daging tak bergerak tak berguna...
namun hadirnya menghidupiku.. malaikat yang memberkatiku.. memberikan aku nafas..,
ibuku... aku melihat indahnya dia bila bersayap ya karna memang Tuhan ciptakan dia untukku tak bersayap...
ibuku... dia terjaga dalam gelapnya malam dalam keadaan duduk karna aku yang selalu rewel akan penyakitku..
ibuku... mengusap kepalaku dan menyelimutiku...
mungkin dia lelah akan kelakuanku, namun dia tak pernah lelah menghabiskan banyak waktu hanya untuk memberi wejangan wejangan untuk masa depanku...
ibuku yang keringatnya adalah darah dan nafasku...
masih terasa dalam ingatanku dengan logat sumatranya... nasehat nasehat yang dia berikan.. menjadi pegangan disaat lumpuh aku dalam berjalan.. sebagai tongkat penyanggah akan kerapuhanku
*pernah suatu malam disaat langgananku hadir.. penyakitku.. ibu duduk dengan kain putih dan diatas sajadah sambil mengangkat tangannya.. air matanya tak menetes karna habis terurai ... dia menangis dalam lafadz doanya hanya demi kesembuhanku..
dalam sakitku bukan hanya aku yg merasakan justru ia lebih pedih merasakan sesak nafasku...
ego ku... sesekali menyakiti malaikatku itu... padahal setetes air susunya pun belum sempat aku balas...
itu baru awal permulaan hidupku.. belum lagi ...
dia mengajariku bicara.. apakah pantas bicaraku dia yg mengajari namun sekarang aku pandai melawannya?
dia mengajariku berjalan.. apakah pantas sekarang justru aku yg berlari meninggalkannya...
dia mengajariku segalanya namun apa yg ku ajarkan padanya? hanya kesedihan dan airmata...
berapa kali aku memohon ampun padanya.. dan berapa kali aku mengulangi kesalahanku itu..
ibuku.. surga mengalir pada telapak kakinya..
menjadikan ia begitu berharga.. ibu dia belahan jiwaku, nyawaku, nafasku, segalanya...
ibuku yang berjuang sendirian melawan kerasnya dunia...
ibuku... yang selalu perduki akan perkembanganku dan kesehatanku.. begitu dia ku agungkan, namun sikapku tak menunjukkan keagungannya..,
ibuku jendela bagi gelapnya goa hitam yang aku tempati sekarang
ibu rara mencintaimu...
aku sadar bukan engkaulah yg harus memahamiku.. namun aku yg seharusnya memahamiku..
aku bukan anak-anak lagi karna hasil perjuanganmu bu.. guratan guratan kelelahan tergambar diwajahmu...
ibuku.. dia wanita paling cantik, makaikat tanpa sayap yang paling indah, tidak kah kau lihat gemerlap sinarnya dengan kerudung putih yang melingkari kepalanya... begitu ia terlihat olehku..
malaikat yang menyambut kepulanganku dan malaikat yg memberikan tangannya untuk ku cium.. hanya demi segenggam restu mu yang menyempurnakan aku..
"bu ampuni rara yah, rara selalu buat ibu marah ibu sedih, tapi perlu ibu ketahui pemahamanku atas itu berbeda, engkau lah nyawaku... jangan menangis lagi bu.. air matamu adalah sayatan sayatan tajam dalam hatiku... memenjarakan kebodohanku bila menyakitimu.. bu.. begitu banyak darah dan airmata yg kau korbankan hingga tinggiku sekarang telah melebihimu... usapan kehangatanmu.. dekapan mu .. semua itu membentuk tulangku.. menjadikan kini aku mampu berlari, bukan meninggalkanmu namun mengejar mimpi untuk membahagiakanmu...
ibu.. terimakasih telah menjadi malaikat ku.. menjagaku... ibu.. merindumu setiap detik merindu senyumanmu yang menjadi tiang penyanggah hidupku"
peluk hangat
dari anandamu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar