Kamis, 16 November 2017

Bosan?

setiap dari kita, pasti mengerti kata bosan atau jenuh
katanya itu sebab sesuatu yang diulang berkali-kali

lalu, bagaimana cintamu pada Tuhan?
apa kau bosan?
coba jelaskan..

apa kau bosan?
Tuhan mencintaimu Berulang-ulang,
apa Ia bosan?

lebih sederhana,
ayahmu mencari uang, nafkah, setiap hari?
apa beliau bosan?
apa beliau jenuh?
coba jelaskan..

ibumu, ya, ibumu mencintaimu berulang-ulang,
apa ia bosan?
apa ia jenuh?

kau makan
mandi
tidur
kau marah
menangis
bahagia

sudah berapa kali?
apa kau bosan?
apa kau jenuh?

kalau jawabanmu Tidak.
jelaskan,

ya, memang, itu karena kau yakin


keyakinan yang membuat Tuhanmu mencintaimu
keyakinan yang membuat kau mencintai Tuhanmu
keyakinan yang membuat Ayahmu tak henti berkeringat demi hidupmu
keyakinan yang membuat Ibumu memeliharamu
keyakinan yang membuat kau melakukannya,

lalu, kau bosan?
melakukannya berulang-ulang?

kau bosan?
atau kau tak yakin dengan dirimu sendiri?

Selasa, 14 November 2017

Kedatangan

Kau mungkin menyalahkan kedatangan,
Kehadiran, atau apa saja yang tiba tak sesuai inginmu, cepatkah? Atau terlalu lama?

Dan kau menyia-nyiakan yang datang padamu, hanya karna kau tak siap, atau tak benar-benar terima.

Lalu apa? Setelah itu pergi?
Kau anggap dirimu dewasa,
Tak peduli dengan kata-kata,
Atau ungkapan-ungkapan air mata.

Pada kenyataannya kau hanya kosong terluka merasa berharga, dan kedatangan itu tak mungkin bisa kau rekayasa kembali.

Kau hanya perlu memahami,
Bukan apa-apa, berjuang itu memang tak enak, mungkin bukan aku yang akan balas, atau dia dan mereka,

Hatimu sendiri yang akhirnya menyadari untuk terluka dan berusaha tabah sekuat-kuatnya, bodoh

Aku mungkin hanya sebuah angka atau huruf di kepalamu, walau kadang kujadikan kalimat lalu kau buyarkan seperti susunan yang kau hambur-hamburkan.

Namun ketahuilah, bacaanmu tentangku yang kau sengaja singgahkan mungkin sempat, akan terus menemanimu, tak mungkin ku biarkan kau menyesali sebuah kedatangan.

Jumat, 10 November 2017

26' Kota Bks

Ku tekankan lebih dalam lagi,
Bahwa dinding itu lebih dingin dari keramik,
Mungkin beberapa derajat bedanya kali ini.
Ntah apa yang menyebabkannya begitu beku padahal ia hanya tersentuh oleh bahuku,

Memang, malam ini lebih sunyi dari kemarin, hanya beberapa kali ku dengar suara air jatuh pada langit-langit kamarku, namun tak apa, tebalnya menyerap lebih cepat.

Sambil melekukkan kaki aku menatap nanar asap obat nyamuk yang berterbangan di atas kepalaku,

Tak melakukan apa apa,
Pantas saja
Dinding itu lebih dingin malam ini.

01.04 am

Kau mungkin seorang pelupa,
Yang egoisnya sama saja seperti ingatan-ingatan yang terbang bersama embun dini hari
Ia basah dingin dan kadang suka menyelinap ke pori-pori,
Namun bentuknya tetap halus seperti bicara-perbincangan seorang ibu pada bayi yang dikandungnya.

Kali ini waktu lebih egois dari ingatan, ia berjalan sedikit lambat agar ingatan kembali pulang pada pelupa,
Segalanya perlahan mulai memudar, dan embun pun kembali jadi air.

Lalu apa lagi?
Hanya disisakannya bibit-bibit luka yang telah dulu dewasa dan membakar habis sebagian penyesalan
Lalu, masih ada sedikit keakraban antara waktu dan ingatan,
Mereka berjalan bersama walau kaki nya sedikit dipercepat detak jantung yang tak begitu romantis ditekan oleh rasa lelah.

Kelelahan-kelelahan itu berujung pada rundingan antara waktu dan ingatan, mau dibawanya ke mana dua kelopak mata ini?

Tak sempat perbincangan usai, namun hadir ia bisikan-bisikan kecil dari para keinginan,
Semakin ramai saja.

Belum sampai pukul dua malam, sebuah bom akhirnya dapat dirakit dengan sempurna, entah kapan meledakan isi kepala...

Kata mereka ini bukan sebuah penekanan atas lelah, ingatan, waktu dan keinginan, hanya saja kini bahagia sulit dijangkau pada jaman yang begitu mudah didapat apa-apa saja.

Kemudian kembali pelupa itu ingat dan mengurungkan keegoisannya yang kalah pada waktu dan ingatan,

Mungkin bukan saja sebuah lupa,
Sepertinya, hanya luka yang sengaja disederhanakan.

Daun yang Terakhir Jatuh

Pada ranting itu ada sepuluh helai daun yang tak kasat mata,
Separuhnya mengenai keyakinan,
Sisanya keputus asaan

Satu persatu ia mulai hinggapi tanah, layaknya kartu remi tumpang tindih bayangkan akan menang namun entah bagaimana

Keduanya merasa lebih dulu tumbuh temani ranting yang diam nya tak melulu diam,
Keduanya mengaku lebih berperan dalam kelangsungan nyawa sang ranting

Satu-persatu hingga sisa yang terakhir,
Ia lebih sombong,
Karena bertahan lebih lama dari sembilan lainnya,
Lupa segala kerabatnya yang lebih dulu bertarung dari padanya,

Keyakinan kah?
Atau keputus asaan?

Selasa, 07 November 2017

Pesohor

Layaknya panggung sinema
Mereka rekam mereka larang
Kemudian mereka abadi dalam angan-angan kebahagiaan

Baju berdasi, wajah dirias rapih
Kemudian mereka lepaskan wajahnya
Senyum dua belas jari
Hati dua belas belati

Apa yang sudah terkasihi
Kepada siapa mereka mengasihi?
Pada batinnya kah?
Atau pada dunianya?

Mataku terpejam saja sudah tahu bahwa kalian bukan jati diri
Bangkit di antara kepingan-kepingan pingin
Pantatnya didorong-dorong pemuja.

Padahal akan berangsur padam 
walau beberapa ada yang memutuskan habis terbakar


Kedubes Bekasi, 03 November 2017
08.00 pm


Senin, 06 November 2017

Riasan

Kali ini tanah basah tak begitu mengganggu penciumanku
Hujan tak membasuh apa pun pada kulitku

Kemudian kembali ku lihat cermin yang ada di pojok sebelah sana
Bukan wajah cantik yang dipantulkannya, kilauannnya pun tak ada
Kata ibu, jadi artis itu bisa banyak uang, namun apa mau dikata
Elok pun tidak, kulitku pun tak pantas jadi model terkenal, apalagi jadi bintang film
Tubuh setengah bulat, hidung tak ada runcingnya
Yang ada bikin malu yang mempunyai

Ya tapi begitulah, kalau bisa kupesan Tuhan pasti sediakan yang terbaik

Bukan mengeluh atau tidak terimakasih kepadaNya.
Hanya saja, banyak dari mereka yang sengaja melampaui Tuhan, katanya wanita itu harus cantik biar bisa diterima apa saja.
Lowongan kerja saja tersebar dengan kriteria "menarik"
Hahahaha
Lucu!
Siapa yang ingin dia tarik?

Sepertinya, Kartini keliru tinggalkan wasiat;
Seharusnya wanita itu, nomer satu harus elok rupanya, tak apa hati sekeras batu atau sehitam tinta
Kedua, payudara kencang, pantat bulat, pinggang bak gitar spanyol ucapnya, tak apa otaknya kosong, asal pintar merayu
Yang ketiga, harus pandai bermain peran supaya jaya lah hidupnya.

Ya memang seperti itulah kenyataannya, jangan heran kalau sekarang kau sering jumpai perempuan yang wajahnya serupa,  salon kecantikan sepertinya belajar hal yang sama

Harusnya Tuhan ciptakan saja semua persis, agar mereka tak melampaui atau mengeluh.
Supaya mereka puas
Toh tak ada bedanya
Keinginannya sama
Pengakuan,
Dari siapa?
Pengakuan,
Dari apa?

Sama,
Pada kenyataannya sama saja.

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...