Kamis, 25 Juli 2013

catatan kecil untukmu

apa kabar senyum mu? aku telah lama tak betegur sapa dengannya..
apa kabar dengan pelukmu? masih kah dia sehangat jika berbalut ragaku?

aku tak pandai menulis segala tentangmu..
aku menyimpannya dalam dalam dihatiku..
sering satu persatu ku ulas kembali ketika rindu meresap hebat..

layaknya malam ini doa terpanjat pada lisan agar senyum dan pelukmu tetap hangat..
aku rindu segalanya, dirimu..

rambutku kini telah terlalu tersusun rapih, tak ada usapan jemarimu.. dia beku terbelenggu rindu

aku, merindumu disetiap hela nafasku, berharap temu untuk sekadar melihat canda dan tawa mu...
temui lah aku, rindu ini hampir terbujur kaku.. tak berdaya aku dibuatnya...

kepadamu, pemilik mata indah itu...

ps : i love u

Senin, 22 Juli 2013

Kolak Ribuan Kilometer

langkah kaki mulai tersendat
dengan rindu dia bersegama
melawan jarak dan waktu yah seolah...
tertawa lantang menikmati kegusaran kita...

namun, masih kuat ku mampu berdiri
pada lingkaran senyum meronamu..
diam diam membisiku untuk tetap bertahan pada rintangan...

betapa indah semesta, suguhkan aku kolak semanis ini...
terdapat, senyum, peluk dan kecupmu didalamnya..

kolak yang ajari aku betapa indahnya bersabar, menunggu waktunya berbuka..
buka, segala rindu yang terpendam diam diam rapat...

aku tau betapa dalam nya rasa cintamu
begitu juga aku, mencintaimu begitu dalam dan senantiasa menunggu jadwal hadirmu..

baiklah,akan kuhangatkan kolak ini terus menerus, agar siap kita santap untuk waktu nanti, ya nanti disaat raga kita tak lagi meronta rindu, hanya dapat labuhkan peluk ...

ps : Mas, cepat pulang, aku mencintaimu...

Selasa, 23 Juli 2013

(kubalas puisimu lalu, http://www.khoyandloser.blogspot.com/2013/07/terimakasih.html?m=1 )

Sabtu, 20 Juli 2013

Suguhan Kebahagiaan

Mas, cepat-cepat aku habiskan
Waktu kita sedikit lagi
Jika santapan ini habis, kita berhasil!
Berhasil menang dari waktu yang kian berlarut cepat sekali

Bukannya begitu manis?
Semanis senyummu sore ini
Ranum layaknya ubi yang kita santap tadi
Lembut suaramu, kalah pisang didalamnya

aku ingin cepat habiskan.,
Jangan mau kalah, oleh waktu yang sengaja berjalan cepat, ya setidaknya hanya disaat kita bersama
Waktu seakan ingin menertawakan
Sekongkol pada jarak

Jika saja aku dapat berteriak
Sekedar untuk hentakan waktu
Agar tak terburu-buru berlalu
Seperti kecup bibirmu yang mendarat di keningku

Padahal kolak ubi ini masih segar
Layaknya rindu yang memuncah, mendidih, panas
Panas melebihi asmara kita
Kita saat bersama saling mendekap
Mendekap dengan lengan yang hangat

Katamu selalu mataku yang coklat
Padahal matamu selalu lebih memikat
Disana aku dapat tenggelam
Manis rasanya kujilati jemariku satu persatu
Satu-satu aku aminkan doa kita
Kita yang menginginkan bersama
Sampai rambut memutih
Memutih karena usia
Usia yang sudah membuat kita bisa duduk santai di teras

Mas, tepat sekali kau berikan semangkuk untukku
Menggambarkan kita yang hangat, beragam, manis dan siap untuk dihidangkan.

siap untuk bersama dengan segala perbedaan..
siap tetap mencinta walau sudah beku oleh rindu
siap melengkapi agar tercipta rasa yang luar biasa

mas... akan kuhabiskan semangkuk kolak ini, layaknya kisah kita.. akan sampai habis, saat nafas kita telah habis, tiada jeda..

kepadamu sang penyuguh kebahagiaan  http://www.khoyandloser.blogspot.com/2013/07/sajian-pertemuan.html?m=1

Rabu, 17 Juli 2013

Hujan, tak lagi merintik

Hujan kali ini.. tak lagi merintik
ia terurai bersama kenangan yang telah rapuh..
kenangan masa silam yang jauh membeku didalamnya

Hujan kali ini tak terlalu pelan pelan datang
diam diam melukai.. memberi bekas yang tajam
dan siap pergi menjauhi..

Hujan kali ini siap menghapus..
luka lama yang berlarut sembuh sebelum terbalut..
luka yang hentakkan jantung dimalam perindu..

Hujan kali ini membawa namamu..
nama yang ku tunggu hapuskan lukaku..
penunggu baru singasana hatiku..

Hujan kali ini tak begitu dingin..
dia terjatuh dengan gemulai tepat dalam hatiku
menusuk hebat mengukir namamu...

Hujan kali ini bawakanku secarik kertas baru
siap untuk kulukis dengan tinta biru..
warna kesukaan mu..

Hujan kali ini tersenyum malu.. 
warnanya merah delima.. tak lagi kelabu seperti dulu...
membawa aroma ceria dalam setiap tetesannya..

Hujan kali ini adalah kamu.. siap untuk ku rajut dengan benang biru..
Hujan kali ini adalah kamu.. tersenyum ditepian senja yang hampir kelabu..
Hujan kali in adalah kamu.. penjaga hati baru.. rindu yang baru..
Hujan kali ini adalah kamu.. menyejukanku dalam kedamaian... 




*senyum dan peluk manja dariku.. mas, Hujanku.. yang memberi warna biru... ( http://khoyandloser.blogspot.com/ )



Rindu ditepian malam

langit begitu cepat mengelabu.. ketempat dimana malam hadir tanpa ragu..
dan sosok wajahmu lah yang masih diam terpaku pada sela sela nafasku...
entah mengapa malam ini begitu membeku.. rindu akan hangatnya pelukmu..
pelukan terakhir sejak pertemuan kedua itu...

pertemuan dimana kita benar benar layaknya tamu.. malu-malu diam terbelenggu..
terbelenggu asmara yang kian membara... menggempita rongga jiwa..
diam diam aku menaruh harapan dalam senyum yang terselip manja dibibirku...

malam kini begitu kejam.. membiakkan rindu hingga sedewasa itu..
ingin kembali rasanya berpulang.. pada hangatnya bahumu yang mendekapku tanpa ragu..
memelukku dalam sendu...

aku ingin bertetap di hatimu, bersantai pada kerinduanmu.. dan tetap menggenggam hangatnya jemarimu..

 malam kini hadirkan rindu.. waktunya semakin melamun.... seolah memperlambat waktu bertemu..
aku diam disini menanti waktu..hingga mampu menghantarku jalan pulang menuju hatimu..


ah, setiap malamku selalu seperti ini.. memenjaraku pada rindu.. rindu yang menghadirkan kegusaranku..

mas.... aku mau duduk kembali berdua bersamamu untuk sekedar menghabiskan senja.. menjadikan ia cerita indah untuk waktu senjaku nanti..

mas.. aku mau bersandar pada bahumu untuk sekedar lepaskan lelah beban masa silamku..

mas... mari kita rakit rumah kita sendiri.. dimana masa depan telah tak sabar menanti..
aku mencintaimu... merindumu... ditepian malam yang terus mengelabu...

dari aku wanitamu, penjaga rumah hatimu...


( balasan puisi untuk kamu yang tercinta, http://www.khoyandloser.blogspot.com/2013/07/rumah-kita.html )

Selasa, 16 Juli 2013

Peluru rindu

2 bulan.. 20 hari.. 6 jam... 20 menit..
sudah berlalu, namun kenanganmu masih menggema dalam desakan nafas ini.. masih dirimu yang kusebut..
bukan karna mencintaimu, namun karna peluru rindu masih jelas tertanam pada bilik bilik jantungku, mendegupkan rangkaian kenangan kita... duluu...
teringat jelas dalam serpihan itu, kenangan kita, saat janji bermakna dalam... saat jarak yang menyatukan kita... tentang sore itu taman hijau, kapal layar yang kita layari.. sebenarnya itu hanya hiasan, namun betapa serunya dua remaja ini bereksperimen pada imajinasi...
berlayar kita jauh, lucunya aku ingat penjaga kapal itu tertawa kecil saat kita bercanda ala film film negri barat itu, aku juga ingat saat kita telah lelah bergurau, kemudian menepi lah kapal layar itu, aku layaknya putri raja kau menyambutku dibawah, menggandengku... semua indah..
masih teringat juga, saat aku merengek minta kau gendong, dan kau menurutinya, dan kenangan itu hanya kebahagiaan...
pertemuan kita yg terbatas oleh jarak dan waktu, justru menguatkan kita...
aku rindu.. peluru ini masih menancap, peluru rinduku...
aku juga masih ingat tentang lagu yang selalu kita nyanyikan, bertajuk jarak dan kesetiaan, kita mulai menyanyikannya setelah hari dimana tiket bioskop yg kau hilangkan, dan dimana aku menghabiskan makananku demi kamu di warung makan pinggir jalan itu..
kebahagiaan yang sederhana, terhambat oleh jarak dan waktu..
namun....
dari semua ingatan itu aku ingat 80 hari yang lalu, saat kau memutuskan mengakhiri hubungan ini...
jarak yang membatasi kita ternyata tak cukup membuat mu setia, iya dia pihak ketiga yang kini menjadi pilihanmu....
kini tiada penyesalan dan airmataku lagi, ya! kenanganmu akan terus ada, namun hanya sebagai pembelajaranku, tentang bagaimana kesetiaan ditangguhkan...
aku menulismu bukan karna hal ingin kau kembali, aku hanya terserang peluru rindu yang seperti malaria ini..
peluru rindu akan kenangan..
itu saja.. jaga dia seperti kau menjagaku dulu, karna itu sangat indah ;)

Mas,

selamat malam pangeran berparas sendu, penunggang rindu...

Mas, sejak aku yang memutuskan untuk jatuh cinta padamu.... lekukan senyummu selalu tergambar..
rona wajah ceriamu membekas erat menggengam keraguan agar tak hadir setiap malamnya..

Mas, biarakan pena tak bertinta ini terus menggores melafadzkan namamu pada setiap ayunannya, terbungkus rapih pada setiap doa sepertiga malamku..

Mas, sejak jatuh cinta itu ada.. tiada henti jantungku menyeru segala tentangmu..
melantunkan setiap gerak gerik tingkah lakumu..

Mas, setiap malamku layaknya panggung teater.. disana selalu diputar segala cerita kebersamaan kita..
canda, tawamu, keluguan dan kehangatan mu.. selalu kamu aktor utamanya..

Mas, biarkan sekelumit tentangku menjadi rindumu.. menjadi bagian yang mengalir pada alunan darahmu..
menjadi tetesan embun pada segala dahagamu..

Mas, izinkan aku berteduh pada hatimu.. dari dinginnya hujan diluar sana, untuk sekedar menyeruput hangatnya secangkir senyum mu..

Mas, apa salahnya aku menjadi bagian dari mimpi mu.. selimut dalam badaimu.. dan salju diteriknya panas hari harimu...

Mas, perkenankanku mengusap gundahmu.. bahagiakanmu hingga nafas terputus dari nadinya..

Mas, masih adakah rongga pada bilik hatimu untukku?
Mas, biarkan kutempati tahta singasana cintamu..
Mas, jadikan aku rumah terakhirmu, tempatmu bertumpu dan bidadari surga mu...


dari aku, yang merindumu tanpa jeda... mencintaimu tanpa jeda...

Merindumu diam diam

untuk kamu, mas..

entah bagaimana pagi ini begitu riuh..
menggempita lisan agar terus bersenandung pada sela sela senyumku..
ya.. hatiku kian rancu.. pertemuan kita akan segera berlabuh..
untuk sekedar melepas rindu yang telah berdebu dan terbujur kaku...


*terakhir kita berjumpa aku terperosok dalam pada tatap matamu..
jauh didalamnya kutemukan bongkahan cinta yang selama ini dambaku diam..
harta karun yang tak ternilai...

tulus sayup kutatap matamu, terdengar bisikan hangat akan keinginanku memelukmu..
saat itu inginku memenjara waktu, menjadikannya tawanan agar tak secepat itu berlalu..

kau lah muara segala penantian, rumah tempatku kembali..
tak sabar rasanya menunggu waktu ... melaju sampai kita bertemu.. lalu kuhentikan waktu itu untuk sekedar tenggelam dalam tatap hangat matamu..



                "izinkan aku menjadi tempat terakhir dalam mimpi malam mu.. menjadi penyambut datangnya pagimu, dan penghapus segala gusarmu, izinkan  aku mas.. "

bisik dibalik senyum maluku...saat itu...

aku merindumu diam diam.. tetap memelukmu dalam doa, memperhatikanmu dalam asa..
aku yang merindumu diam diam, kian tersandung kegusaran yang mencekam, pertanyaan yang terus megelabu "kapan kita bertemu lagi?"

kini jawaban ku terima... senyum meronaku kembali menebal merah delima....
 

terimakasih telah menjadi akhir penantianku, mas
terimakasih telah setia menjadi lamunanku..


*peluk hangat sang penantimu, ampas kopi itu masih hangat


(membalas puisimu,http://www.khoyandloser.blogspot.com/2013/07/dibalik-senyummu.html )

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...