untuk kamu, mas..
entah bagaimana pagi ini begitu riuh..
menggempita lisan agar terus bersenandung pada sela sela senyumku..
ya.. hatiku kian rancu.. pertemuan kita akan segera berlabuh..
untuk sekedar melepas rindu yang telah berdebu dan terbujur kaku...
*terakhir kita berjumpa aku terperosok dalam pada tatap matamu..
jauh didalamnya kutemukan bongkahan cinta yang selama ini dambaku diam..
harta karun yang tak ternilai...
tulus sayup kutatap matamu, terdengar bisikan hangat akan keinginanku memelukmu..
saat itu inginku memenjara waktu, menjadikannya tawanan agar tak secepat itu berlalu..
kau lah muara segala penantian, rumah tempatku kembali..
tak sabar rasanya menunggu waktu ... melaju sampai kita bertemu.. lalu kuhentikan waktu itu untuk sekedar tenggelam dalam tatap hangat matamu..
"izinkan aku menjadi tempat terakhir dalam mimpi malam mu.. menjadi penyambut datangnya pagimu, dan penghapus segala gusarmu, izinkan aku mas.. "
bisik dibalik senyum maluku...saat itu...
aku merindumu diam diam.. tetap memelukmu dalam doa, memperhatikanmu dalam asa..
aku yang merindumu diam diam, kian tersandung kegusaran yang mencekam, pertanyaan yang terus megelabu "kapan kita bertemu lagi?"
kini jawaban ku terima... senyum meronaku kembali menebal merah delima....
terimakasih telah menjadi akhir penantianku, mas
terimakasih telah setia menjadi lamunanku..
*peluk hangat sang penantimu, ampas kopi itu masih hangat
(membalas puisimu,http://www.khoyandloser.blogspot.com/2013/07/dibalik-senyummu.html )
Selasa, 16 Juli 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Rumah Tangga?
Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...
-
Jatuh cinta kepadamu bukanlah sebuah puisi-puisi yang aku nikmati atau aku tuliskan. Jatuh cinta kepadamu, Adalah tangisan yang aku redam...
-
Kau hanya sebuah tulisan, Yang aku setarakan dengan awan-awan di langit. Ingin ku sentuh, Dapat ku sentuh, Kemudian basah, Namun di kel...
-
Kau mungkin seorang pelupa, Yang egoisnya sama saja seperti ingatan-ingatan yang terbang bersama embun dini hari Ia basah dingin dan kadan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar