Rabu, 27 Desember 2017

Bicara Jatuh Cinta

Kata orang, jatuh cinta berjuta rasanya, bahkan dibelai dipandang amboi rasanya

Namun ada yang bergegas untuk lupa kemudian berangsur pudar

Benarkah itu cinta?
Amboi rasanya

Bicara jatuh cinta, kepala ini berisik sekali obrolannya, antara harapan serta kenyataan tak kalah hebat berdebat siapa yang terhebat

Lalu apa? Hanya menyisakan ulu hati yang tertusuk-tusuk

Bicara jatuh cinta, sekelas penemu atom pun mungkin bisa sejongkok itu
Ha ha... apasih cinta??

Sebagian menganggapnya anugrah, yang lainnya bergegas lupa dan berangsur pudar

Kau hanya butuh kuat, dan yakin.
Setelahnya, apa??

Hanya dua

Bahagia,

Atau,

Apa.

Minggu, 10 Desember 2017

Nasi uduk

Mungkin kau adalah nasi uduk sarapan pagiku, yang aku santap dengan harap penuh kebugaran sampai nanti siang hari
Sebab, bila ini adalah sebuah ibarat,
Tawa dan canda mu ialah kerupuk yang merenyahkan kunyahanku,
Pelukanmu ialah sambel yang genit menggigit lidahku
Yang lebih serunya, bersamamu bagaikan semur jengkol dan tempe orek bila dikunyah menari-nari rasanya,

Namun kau perlu ingat, aku mungkin bertemu nasi uduk pagi ini

Siangku belum tahu ada apa,
Malam nanti bisa saja banyak makanan lainnya,
Itu sebabnya, kau adalah nasi uduk sarapan pagiku.

Kamis, 16 November 2017

Bosan?

setiap dari kita, pasti mengerti kata bosan atau jenuh
katanya itu sebab sesuatu yang diulang berkali-kali

lalu, bagaimana cintamu pada Tuhan?
apa kau bosan?
coba jelaskan..

apa kau bosan?
Tuhan mencintaimu Berulang-ulang,
apa Ia bosan?

lebih sederhana,
ayahmu mencari uang, nafkah, setiap hari?
apa beliau bosan?
apa beliau jenuh?
coba jelaskan..

ibumu, ya, ibumu mencintaimu berulang-ulang,
apa ia bosan?
apa ia jenuh?

kau makan
mandi
tidur
kau marah
menangis
bahagia

sudah berapa kali?
apa kau bosan?
apa kau jenuh?

kalau jawabanmu Tidak.
jelaskan,

ya, memang, itu karena kau yakin


keyakinan yang membuat Tuhanmu mencintaimu
keyakinan yang membuat kau mencintai Tuhanmu
keyakinan yang membuat Ayahmu tak henti berkeringat demi hidupmu
keyakinan yang membuat Ibumu memeliharamu
keyakinan yang membuat kau melakukannya,

lalu, kau bosan?
melakukannya berulang-ulang?

kau bosan?
atau kau tak yakin dengan dirimu sendiri?

Selasa, 14 November 2017

Kedatangan

Kau mungkin menyalahkan kedatangan,
Kehadiran, atau apa saja yang tiba tak sesuai inginmu, cepatkah? Atau terlalu lama?

Dan kau menyia-nyiakan yang datang padamu, hanya karna kau tak siap, atau tak benar-benar terima.

Lalu apa? Setelah itu pergi?
Kau anggap dirimu dewasa,
Tak peduli dengan kata-kata,
Atau ungkapan-ungkapan air mata.

Pada kenyataannya kau hanya kosong terluka merasa berharga, dan kedatangan itu tak mungkin bisa kau rekayasa kembali.

Kau hanya perlu memahami,
Bukan apa-apa, berjuang itu memang tak enak, mungkin bukan aku yang akan balas, atau dia dan mereka,

Hatimu sendiri yang akhirnya menyadari untuk terluka dan berusaha tabah sekuat-kuatnya, bodoh

Aku mungkin hanya sebuah angka atau huruf di kepalamu, walau kadang kujadikan kalimat lalu kau buyarkan seperti susunan yang kau hambur-hamburkan.

Namun ketahuilah, bacaanmu tentangku yang kau sengaja singgahkan mungkin sempat, akan terus menemanimu, tak mungkin ku biarkan kau menyesali sebuah kedatangan.

Jumat, 10 November 2017

26' Kota Bks

Ku tekankan lebih dalam lagi,
Bahwa dinding itu lebih dingin dari keramik,
Mungkin beberapa derajat bedanya kali ini.
Ntah apa yang menyebabkannya begitu beku padahal ia hanya tersentuh oleh bahuku,

Memang, malam ini lebih sunyi dari kemarin, hanya beberapa kali ku dengar suara air jatuh pada langit-langit kamarku, namun tak apa, tebalnya menyerap lebih cepat.

Sambil melekukkan kaki aku menatap nanar asap obat nyamuk yang berterbangan di atas kepalaku,

Tak melakukan apa apa,
Pantas saja
Dinding itu lebih dingin malam ini.

01.04 am

Kau mungkin seorang pelupa,
Yang egoisnya sama saja seperti ingatan-ingatan yang terbang bersama embun dini hari
Ia basah dingin dan kadang suka menyelinap ke pori-pori,
Namun bentuknya tetap halus seperti bicara-perbincangan seorang ibu pada bayi yang dikandungnya.

Kali ini waktu lebih egois dari ingatan, ia berjalan sedikit lambat agar ingatan kembali pulang pada pelupa,
Segalanya perlahan mulai memudar, dan embun pun kembali jadi air.

Lalu apa lagi?
Hanya disisakannya bibit-bibit luka yang telah dulu dewasa dan membakar habis sebagian penyesalan
Lalu, masih ada sedikit keakraban antara waktu dan ingatan,
Mereka berjalan bersama walau kaki nya sedikit dipercepat detak jantung yang tak begitu romantis ditekan oleh rasa lelah.

Kelelahan-kelelahan itu berujung pada rundingan antara waktu dan ingatan, mau dibawanya ke mana dua kelopak mata ini?

Tak sempat perbincangan usai, namun hadir ia bisikan-bisikan kecil dari para keinginan,
Semakin ramai saja.

Belum sampai pukul dua malam, sebuah bom akhirnya dapat dirakit dengan sempurna, entah kapan meledakan isi kepala...

Kata mereka ini bukan sebuah penekanan atas lelah, ingatan, waktu dan keinginan, hanya saja kini bahagia sulit dijangkau pada jaman yang begitu mudah didapat apa-apa saja.

Kemudian kembali pelupa itu ingat dan mengurungkan keegoisannya yang kalah pada waktu dan ingatan,

Mungkin bukan saja sebuah lupa,
Sepertinya, hanya luka yang sengaja disederhanakan.

Daun yang Terakhir Jatuh

Pada ranting itu ada sepuluh helai daun yang tak kasat mata,
Separuhnya mengenai keyakinan,
Sisanya keputus asaan

Satu persatu ia mulai hinggapi tanah, layaknya kartu remi tumpang tindih bayangkan akan menang namun entah bagaimana

Keduanya merasa lebih dulu tumbuh temani ranting yang diam nya tak melulu diam,
Keduanya mengaku lebih berperan dalam kelangsungan nyawa sang ranting

Satu-persatu hingga sisa yang terakhir,
Ia lebih sombong,
Karena bertahan lebih lama dari sembilan lainnya,
Lupa segala kerabatnya yang lebih dulu bertarung dari padanya,

Keyakinan kah?
Atau keputus asaan?

Selasa, 07 November 2017

Pesohor

Layaknya panggung sinema
Mereka rekam mereka larang
Kemudian mereka abadi dalam angan-angan kebahagiaan

Baju berdasi, wajah dirias rapih
Kemudian mereka lepaskan wajahnya
Senyum dua belas jari
Hati dua belas belati

Apa yang sudah terkasihi
Kepada siapa mereka mengasihi?
Pada batinnya kah?
Atau pada dunianya?

Mataku terpejam saja sudah tahu bahwa kalian bukan jati diri
Bangkit di antara kepingan-kepingan pingin
Pantatnya didorong-dorong pemuja.

Padahal akan berangsur padam 
walau beberapa ada yang memutuskan habis terbakar


Kedubes Bekasi, 03 November 2017
08.00 pm


Senin, 06 November 2017

Riasan

Kali ini tanah basah tak begitu mengganggu penciumanku
Hujan tak membasuh apa pun pada kulitku

Kemudian kembali ku lihat cermin yang ada di pojok sebelah sana
Bukan wajah cantik yang dipantulkannya, kilauannnya pun tak ada
Kata ibu, jadi artis itu bisa banyak uang, namun apa mau dikata
Elok pun tidak, kulitku pun tak pantas jadi model terkenal, apalagi jadi bintang film
Tubuh setengah bulat, hidung tak ada runcingnya
Yang ada bikin malu yang mempunyai

Ya tapi begitulah, kalau bisa kupesan Tuhan pasti sediakan yang terbaik

Bukan mengeluh atau tidak terimakasih kepadaNya.
Hanya saja, banyak dari mereka yang sengaja melampaui Tuhan, katanya wanita itu harus cantik biar bisa diterima apa saja.
Lowongan kerja saja tersebar dengan kriteria "menarik"
Hahahaha
Lucu!
Siapa yang ingin dia tarik?

Sepertinya, Kartini keliru tinggalkan wasiat;
Seharusnya wanita itu, nomer satu harus elok rupanya, tak apa hati sekeras batu atau sehitam tinta
Kedua, payudara kencang, pantat bulat, pinggang bak gitar spanyol ucapnya, tak apa otaknya kosong, asal pintar merayu
Yang ketiga, harus pandai bermain peran supaya jaya lah hidupnya.

Ya memang seperti itulah kenyataannya, jangan heran kalau sekarang kau sering jumpai perempuan yang wajahnya serupa,  salon kecantikan sepertinya belajar hal yang sama

Harusnya Tuhan ciptakan saja semua persis, agar mereka tak melampaui atau mengeluh.
Supaya mereka puas
Toh tak ada bedanya
Keinginannya sama
Pengakuan,
Dari siapa?
Pengakuan,
Dari apa?

Sama,
Pada kenyataannya sama saja.

Minggu, 29 Oktober 2017

Ungkapan


Jatuh cinta kepadamu bukanlah sebuah puisi-puisi yang aku nikmati atau aku tuliskan.

Jatuh cinta kepadamu,
Adalah tangisan yang aku redamkan,
Adalah tawa yang aku bisukan,
Adalah marah yang aku padamkan,
Adalah kasih yang aku amankan,
Adalah pusaran sikap yang aku tenangkan.

Niraksara

Kau hanya sebuah tulisan,
Yang aku setarakan dengan awan-awan di langit.
Ingin ku sentuh,
Dapat ku sentuh,
Kemudian basah,
Namun di kelopak mata.

Kau adalah sebuah tulisan,
Yang aku ibaratkan dengan nirwana
Ingin ku tempati,
Dapat ku tempati,
Kemudian kekal,
Namun di dalam jiwa saja.

Kau adalah tulisan-tulisan seorang niraksara ini.

Kamis, 19 Oktober 2017

Pertanyaan

Kau bertanya sesaat, adakah dirimu di dalam ruang itu, mereka biasa menyebutnya hati.

Tapi tunggu dulu sebentar, nyali mu kuat, kau turunkan ego untuk bertanya yang bukan-bukan.

Namun boleh kau ingat,
Aku tak bisa menyelamatkanmu ke dalam puisi-puisi ku, naif rasanya, ku biarkan kau tenggelam dan larut di dalamnya
Mungkin kali ini kau bisa saja mati dalam kata-kata yang mungkin telah diindahkan

Seperti ini,
Bila kau satu aku ialah dua, bila kau tiga aku ialah empat, mungkin semudah menderetkan kita,
Namun tak ada genap kemudiannya
Kau tahu, aku tahu itu.

Kemudian aku pura-pura saja lupa pernah sekian detik mencintaimu?
Mencintaimu?
Hhhh mencintaimu?
Apapun lah katamu, aku sudah jujur.
Atau kata lain, menempatkanmu di hatiku?

Halah! Kita ini remaja apa dewasa?
Digerayangi kata kata cinta,
Dijamah perlakuan perlakuan rindu,
Lalu apa?
Bias kan?

Namun harus kujelaskan,
Menjawab pertanyaanmu tak sama mudahnya ketika mencari alasan untuk habiskan waktu bersamamu,
Aku bisa saja berbohong,
Atau pura-pura saja lupa,

Walau kadang ingat, ini tak bisa.

Imajinasi Brengsek

Sering kali aku genggam lembut satu per satu dari helai rambut panjangmu
Atau aku peluk tubuh ringanmu
Dan kemudian aku kecup keningmu

Kemudian separuh lainya menegurku!
"Kau manusia, ingat itu saja"
Dengan segala iming-iming kita adalah makhluk sempurna, kutinggalkan kau dengan mata terpejam setengah basah

Barangkali aku boleh diam, dengan kecamuk-kecamuk suara di lingkar kepala dan aku masih sedia untuk diam

Tunggu sebentar, membiarkanmu dalam imajinasiku memang tidak beradab, sementara yang lainnya berusaha keras mengabaikanmu?

Aku ini apa?
Mencintaimu atau tidak?
Brengsek!
Nyatanya keduanya pun sulit untuk salah satu, brengsek!

Bohong lah kau!
Pura-pura saja selama ini, bersikap seolah aku yang iblisnya, padahal kau pastinya pun bukan malaikat.

Nampaknya bukan dirimu, itu diriku, iya, diriku, kau abadi,

Tapi sudahlah,
Jalan ini masih begitu bercabang,
Kau,
Bukan sekadar imaji ku
Brengsek,
Nyatanya kau imaji ku.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Biasanya

Seringkali Tuhan,
Kau libatkan aku pada doa yang berantakan,
Memang semuanya tak karuan,
Sedikit sesak atas keramaian ini,
Walau bisa saja aku kehilangan napas dalam ruang selanjutnya,

Melalui lidah-lidah mereka, Kau sering meludahiku dengan kata-kata "kau tak bisa sendirian" pada kenyataannya apa?

Bukan, bukan ini protes atau penolakan kebencian dendam atau apa,
Aku mencintaiMu layaknya Ibu dan Ayah pernah ajarkan (mungkin pernah mereka ajarkan)

Semua orang, setiap, bahkan satu per satu pernah merasakannya,
Memang aku tak benar-benar sendirian sesendiri ini
Aku sendirian?
Ah tidak!
Atau
Mungkin bisa saja,

MenebakMu katanya dosa,
Apapun Dosa lah...

Untuk kali ini saja...
Aku biarkan dosa itu,
Seberapa besar kau libatkan aku pada itu,
Apapun,
Semua kembali, pada ini yang terbaik yang Kau pilih...


Serakah

Mendapat pengampunan atas dosa yang tak ku buat,
Mendapat pelukan atas tubuh yang aku miliki,
Mendapat senyuman atas cinta kasih-pengampunan serta rindu yang tak redup,
Mendapat tawa atas keriangan lelucuon konyol yang kau sengaja utarakan,
Mendapat kehangatan atas api yang sia-sia aku panaskan,
Mendapat bising atas kepak kecil sayap dewa yang aku terbangkan,
Mendapat kehadiran atas doa-doa yang aku tangisi bila tak ada pengabulan,

Kemudian masih ingin dan kemudian masih ingin dan kemudian masih ingin dan kemudian masih ingin

Ingin
Ingin
Ingin

Seolah hipotesa akan ditambahkan kian aku patahkan

Dan satu per-satu dari ketiadaan kian melintasi,
Jalan pintas ini tak akan mudah,
Boleh kau racuni aku saja
Tapi berikan aku sedikit puas.

Jumat, 06 Oktober 2017

Sewaktu-waktu

Apa kau pernah, sekali saja merasa begitu sepi hingga napasmu berlari kencang di ujung kerongkongan?
Apa kau pernah, sekali saja ingin menghentikan waktu hanya untuk bernapas?
Selega itukah?

Apa kau pernah, sekali saja berteriak pada ruang kosong namun seolah seluruh mata menatapmu dengan bengis?
Apa kau pernah, tertawa bersama dalam kepanjang umuran padahal kau akan mati besok?
Sebising itukah?

Kau bisa kapan saja
Menjadi sendirian
Atau
Menjadi bagian

Kau bisa kapan saja
Merasa mati dalam kedamaian
Atau
Hidup dalam ketiadaan

Jumat, 29 September 2017

Dalam upaya menyelamatkan diri

Aku di mata mereka,

Mereka mengatakan aku pembawa suasana hidupnya senang
(Padahal aku hanya mati dan sepi)

Mereka mengatakan bahwa aku mudah jatuh cinta pada setiap pria
(Padahal cintaku hanya tumbuh sekali)

Mereka mengatakan bahwa aku baik baik saja tak pernah menderita
(Padahal aku sekarat setengah bernapas)

Mereka bilang, aku bijaksana semua mau bercerita keluh kesahnya
(Padahal aku hanya sok pura-pura saja)

Mereka bilang dan tertawa, katanya temanku banyak ada di mana mana
(Padahal aku selalu sendiri)

Kamis, 28 September 2017

Ba(h)ag(i)aimana

Bagaimana bisa seseorang merasa sangat kesepian di tengah ribuan teriak di pasar malam, dengan setangkai gulali merah dan balon hijau di genggamannya?

Bagaimana bisa ia sekarat di dalam dengan jutaan cinta kasih dari harapan-harapan orangtuanya?

Bagaimana bisa ia ingin saja mati namun tak terciprat dosa masa lalunya sambil meneteskan airmata ia memohon entah kepada Tuhan siapa?

Bagaimana bisa Tuhan biarkan dia dalam kehancuran sementara tawanya bisa jadi semangat untuk yang lainnya?

Bagaimana bisa ia menangis tersedu-sedu berharap kematian tidak menyakitinya dengan segala keraguannya dan detik kemudian ia tertawa terbahak bahak akan keluguannya?

Bagaimana bisa ia duduk bersamamu dengan segala cintanya, namun merasa kosong di sisi lainnya?

Minggu, 24 September 2017

Suguhan

Silakan dinikmati,

Dusta
Nista
Amarah
Durjana
Benci
Dendam
Murka
Bengis
Durjasa
Silau
Tamak
Kikir
Durja
Nestapa

; Jangan sungkan untuk datang lagi...

Sabtu, 23 September 2017

Pada setiap

Kamu, sebuah pagi yang aku bayangkan hangat setiap kelopak ini terbuka
Kamu, sebuah malam yang aku bayangkan damai setiap napas ini mulai mereda
Kamu, sebuah siang yang aku bayangkan teduh setiap kening ini berkeringat
Kamu, sebuah sore yang aku bayangkan tenang setiap bising ini di telinga.

Kamu, sebuah pada setiap....

Minggu, 03 September 2017

Sebagian Keyakinan

Yakinku Tuhan sengaja
Pertemukan kita
di waktu yang seimbang
Dan rasa yang searah

Sampai pejam matamupun
Bisa membuat napasku
Perlahan-lahan meletupkan kebahagiaan

Seperti kata mereka
Jatuh cinta itu hanya sebuah proses
Dan bersama menjadi keputusannya
Bisa saja kita kemudian habis terbakar
Atau memudar bersama

Yakinku kedua kalinya, bahwa aku tak ada segan menanti menatap wajahmu saat tua nanti dalam pejam malam dan pagi menjelang.

Aku mencintaimu, 

A

Aku jatuh dan tenggelam
Ke dalam bola matamu
Dan tersesat
pada alismu yang pekat

Mencintaimu kini
adalah sebaik baiknya jalan
Untuk menuju pulang
Kedamaian

Namamu adalah Awal dan kita adalah akhirnya.

Senin, 31 Juli 2017

Bilangan

Kita, ialah dua deret angka, berdekatan namun tidak saling menemukan genap.

Kata yang diucapkan seorang gadis ketika dirinya tidak mampu menahan sabar sebentar saja

Maaf

Simfoni Hitam

Seketika cinta benar-benar berhenti ketika Simfoni hitam dari Sherinna terdengar ditelinga, seolah membenarkan kesakitan yang terjadi
Kemudian menyadarkan luka-luka yang selama ini diabaikan. Patah hati itu ajaib, dibuat tahu diri hatinya, direndahkan egonya, agar bisa melebur dengan tanah.

Bila saja sebuah lagu bisa membuatmu jatuh cinta, mengapa tidak dengan patah hati?

Selasa, 25 Juli 2017

Rasa

Kopi tak pernah hilang makna
Diasamkannya pahit-pahit gelora
Dipahitkannya asam-asam nestapa
Diasinkannya manis-manis suaka

Kamis, 20 Juli 2017

Sangkalan

Cinta tak butuh arah mata angin
Diterjangnya badai
Disebrangnya lautan
Hendak ke pulau
Ke hulu ia bermuara

Cinta tak butuh brosur brosur
Dibangunnya rumah
Dari asa-asa dan doa
Dari luka-luka yang tabah
Dari caci -dan-hina keluarga

Cinta tak butuh intan berlian
Ia butuh ikhlas dan rendah diri
Dicurinya hati Tuhan
Agar kedua tangan tak segan mengangkat
Mengangkat segala rasa-rasa
Dari kegagalan

Barisan Rinai Hujan di Ujung Jalan

Aku masih ingat ketika kita terjebak di antara hujan yang manis dan gerimis, pertemuan pertama yang hangatnya begitu terasa merusuk, tentang sepasang bola mata indah yang menatapku dalam dalam diam diam..
Kedua bola mata yang dengan sadis menusuk panah cinta tepat di pelantar hatiku, bola matamu..
Pertemuan yang hanyutkan aku dan kamu hingga menemukan kita.

Hai, Radit.. aku ingat dua tahun silam kau menyita pikiranku hingga terpaut padamu. Tawamu yang hangat dan berkharisma selalu saja berhasil mendegubkan kembali palung hati terdalam.
Aku selalu ingat perihal hujan yang kau anggap beda, kau bilang hujan adalah bentuk pujian Tuhan terhadap kita

“Kei, dengarkan suaranya.. seperti tepuk tangan yang riuh, bukan? Jangan kau anggap hujan seperti tangisan alam, namun sebagai pujian Tuhan atas keindahan yang terjadi.. kau harus belajar menganggap segala sesuatu indah, termasuk dirimu sendiri”

seketika lidahku kelu mendengar keindahanmu menganggap segala hal menjadi indah.

Dit, akupun ingat kau selalu meraih tanganku ketika hujan di bulan Juli mengajakku menari-nari tertawa di hadapan orang banyak .. kau bilang aku tak boleh takut sakit, justru hujan meluruhkan segala sakitku.

Dua tahun bersamamu yang begitu manis, aku hingga bingung bagaimana menghabiskan segelas tangis ini yang terasa begitu manis.

Banyak yang ku pelajari dari senyumanmu, tentang hujan yang indah, tentang rindu yang sebaiknya aku sebut bukan aku bungkam dalam kalut, tentang bagimana hidup dengan memandang segalanya begitu indah.

Aku tenggelam, dalam ceria dan gaya hidupmu, tentang segala luka yang kau seruput dengan nikmat, kau begitu membingungkan bagiku ; “mengapa malaikat seperti ini dapat aku temui, bahkan aku miliki” pertanyaan yang acap kali datang menyerbu pikiranku.

Aku tak pernah melihat luka dalam retina matamu, bahkan ketika sedihpun kau masih menggodaku dengan berjoget ala film India. Kau membawaku pada hujan dan lagu yang sering kita nyanyikan berdua, sepertinya hanya aku saja yang menyanyikan sebab kau sibuk memandangku dengan tatapan sesadisnya cinta paling dalam. Lalu, ketika kau ku tanya mengapa menatapku seperti itu terselip senyum manis di ujung bibir tipismu yang gemas rasanya ingin ku cumbu setiap waktu.

Kau selalu mengajakku berpergian tanpa bilang mau kemana kita sampai akhirnya semua itu selalu kejutan indah, ingatan tentang kau bawa aku pergi menonton film lama di bioskop yang sudah tua, kau bilang kenangan itu tak boleh dilupakan karena kita belajar dari segala kenangan, film yang selalu kita tonton berulang kali.

Yang ku ingat, bersamamu hanyalah bahagia, segala indahmu membawaku pada waktu paling indah. Ntah mengapa kau hanya sibuk membahagiakanku tanpa menunjukan sedikitpun lukamu, atau sakitmu.
Aku menyesal tak mengenalmu seperti kau mengenalku, aku selalu menerima kebahagiaan dan menemanimu tanpa memberi warna lebih di akhir akhir pesakitanmu.

Kau selalu memintaku agar tetap bahagia, bagaimana aku dapat bahagia? Ketika hanya kau yang dapat lakukan itu telah pergi tanpa pamit kepadaku?
Bagaimana aku dapat bahagia ketika kau yang melukis senyum kini pergi takkan kembali?
Bagaimana aku dapat bahagia ketika kau yang memelukku kini dingin dan hanya semu?
Bagaimana aku dapat bahagia ketika kau yang mengajakku kini tak pernah datang menjemput?

Pantas, kau tak pernah berjanji akan selalu menemaniku, sebab kau akan tahu bahwa kau takkan menemaniku lagi..

Kini aku hampir benci terhadap hujan, yang selalu ingatkan ku padamu, aku benci mengenyam tangis sendirian, dirimu takkan kembali..

Banyak penyesalanku, mengapa tak pernah memelukmu dengan erat, mengapa tak menjagamu dengan hangat, mengapa aku tak melihat penderitaanmu selama ini? Bertarung dengan sakit dan tetap membahagiakanku seutuhnya.

Terimakasih telah hadir bersama hujan, kini aku hanya mengenang hujan bersama ribuan tangis yang  jatuh di tanah, terimakasih telah berikan hangat dalam pelukmu, terimakasih telah mengajarkan hal indah dan membawaku serta pada hujan.

Radit, kini aku duduk sendirian di tempat yang tepat pertama kali kita berjumpa dua tahun silam, kini pun hujan dan banyak  tangis di dalamnya, aku menikmati segelas tangis ini dengan melihat senyummu yang berjatuhan tiap tetesnya pada tanah,  kini aku tak mengartikan lagi hujan sebagai  pujian Tuhan, namun sebagai dirimu yang bahagia di atas sana, aku yakin pada setiap tetes hujan yang jatuh di alamku adalah segala pesan rindumu kepadaku..

Radit, aku telah kuyub bersama hujan, rindu, dan kamu..  namun aku tetap hangat karena semua itu kita. Aku telah belajar, dit.. bagaimana melepas genggamanmu dan acap bersamamu dalam doa sepertiga malamku..

Radit, kini aku bersama rinai hujan, dan rupa dirimu di ingatan, pada ujung jalan dibulan Juli...
Aku mencintaimu...

Jakarta, 26 Juli 2014

Keira...

Alokasi dari blogg yang jarang dipakai

Vaniralatte.blogspot.com

Denganmu

Ada magis katanya, pada sebuah lagu bisa mengembalikan sebuah tangis menjadi gelak tawa sebuah pupus tumbuh ranting asa dan mesin waktu itu berputar ke arah yang sebaliknya.

Aku masih duduk di sini menangisi hari kemarin atau hari ini, kemudian nada-nada itu satu persatu menyerupai jemarimu, ia menjamah persentimeter tubuhku, halus jemarinya masih sehangat pelukmu yang aku coba biaskan pada getir-getir luka.

Sambil memejam aku menadakan bibirmu sebagai minor kemudian basah pada ingatanku, terlintas masih setiap alunannya akan jemarimu yang pengertiannya seolah menjadi sebuah getar denting gitar itu.

Sebab lagu ialah sebuah nada mesin waktu paling sederhana, ia kembalikannya sel-sel cinta yang angin sengaja lepaskan dari jaringan-jaringan tubuhmu.

"... denganmu terhapus semua penat duniaku, denganmu kau buka semua jalan pikiranku, kauharapanku"

Denganmu, jatuh cinta ialah mudah.

- tulisan ini membenarkan Cholil bahwa "gelombang kan mengisi seluruh ruang tubuhmu"
Gelombang itu selalu ada pada setiap saat lagu Brian KP - "Denganmu" terdengar.

Senin, 17 Juli 2017

Mengenai Apa

Bila kesempurnaan belum jelas
Maafkan ego yang terlintas
Mengenai tubuh yang jarang kupeluk
Mengenai buku buku yang merebah di bantalmu bukan kepalaku
Mengenai pagimu tanpa kecup hangat di cangkir yang kau seruput isinya
Mengenai handuk yang kau ambil sendiri
Mengenai makanan kantin bukan dari dapur rumahmu
Mengenai kerah yang tak rapih kau setrika sendiri
Mengenai dasi yang dikenakan cermin
Mengenai pakaian kotor yang kau lempar kemarin
Mengenai tubuhmu yang tak ku jamah pada gelap

Mencintaimu ialah seegois egoisnya umat
Dan aku hanya beberapa penggal kata pada setiap asap rokok pagimu...

Minggu, 16 Juli 2017

Ada Kala...

Ada kala..
Matahari tenggelam
Bulan memudar
Langit menggelap
Awan menghujan
Nyawa berhenti
Tangis meriak
Dinding meretak
Tegak membengkok
Kuat melemah
Pelangi memutih

Ada kala
Jatuh pun bangkit
Lari pun berhenti
Lelah pun kuat
Gelap pun terang
Luka pun terobati
Lingkar pun keluar
Genggam pun terlepas
Beban pun meringan
Hitam pun cerah
Bayi pun dewasa

Ada kala...

Endorfin

Ada yang menangis pada malamnya
Menangisi malamnya
Tangis menangisi pada malamnya
Menangis-nangisi malam-malamnya
Kemudian diam dan endorfin lepas perlahan
Lalu satu persatu patah
Sepatah-patahnya
Endorfin kehilangan akalnya
Sehilang-hiangnya
Dan malam menjadi tangisan paling menangis
Semenangis-menangisnya
Lalu mengering sebab udara
Sekering-keringnya basah

Mengeras sejadi-jadinya
Bahkan pada basah iapun mengeras
Dan Endorfin kehilangan tugasnya
Sebanyak-banyaknya
Endorfin tak perlu Endorsmen
Ia laku di pasaran sejadi-jadinya
Namun kini setelah menjadi tangis pada malamnya
Semenangis-menangisnya
Endorfin kehilangan nyawa
Pada setiap basah yang dilepaskan

;yang diemban sang tangan kiri

Bahkan kuku-kuku nya pun tak pernah serapih itu, dibiarkan hitam, panjang, terlupakan
Dengan apa yang menjadikannya begitu bijaksana
Kemudian ia teringat ketika sang tangan kanan mulai goyah memikul pilu ini sendirian
Ia hadir mengusap kepiluan agar lemas menurut pada keadaan
Acap kali ia bertemu anus namun terdiam atas dosa-dosa yang kau ucap dengan seribu bangga;bahagia
Dan ia terkesampingkan dalam memenuhi gizimupun ia tak berhak, dalam ingin membahagiakanmu dengan suci ia-tetap-tidak-berhak
Kalau saja ia dilahirkan seagung tangan kanan mungkin kau memujanya dengan seperti keadaan sekarang
Kalau saja ia tahu bahwa ia akan disadiskan seperti ini, ia lebih baik mati bersama plasenta atau tak keluar dari rahim ibu.
Ia lebih baik mati, namun ia tetap hidup bersama kebijaksanaannya mengemban tugasnya...

Rumah Tangga?

Sesekali saya bertanya kepada diri saya sendiri, apakah orang yang melihat saya, ingin menjalani kehidupan seperti saya? Satu hal yang menj...